Kegiatan nyurat lontar massal di SMAN 1 Kediri diikuti tak hanya siswa, guru, dan pegawai, namun undangan yang hadir pun ikut merasakan pengalamannya. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Kecamatan Kediri tampil berbeda. SMAN 1 Kediri menggelar nyurat lontar massal di halaman sekolah dengan mengusung tema “Eling Kediri”, melibatkan siswa, guru, pegawai, komite sekolah, hingga unsur pemerintah kecamatan, Kamis (12/2).

Kegiatan ini menjadi agenda yang jarang ditemukan, mengingat tidak hanya sebatas lomba perwakilan, melainkan semua yang hadir ikut nyurat lontar, mulai dari siswa yang berjumlah 953 orang, guru dan pegawai sebanyak 100 orang, tujuh orang komite, hingga tamu undangan seperti Camat Kediri, perbekel, bendesa adat dan prajuru lainnya.

Kepala SMAN 1 Kediri, I Nyoman Purwanta mengatakan, nyurat lontar massal ini merupakan yang pertama kali digelar di sekolahnya. Kegiatan tersebut menjadi implementasi tema Bulan Bahasa Bali tahun ini, “Atma Kerthi – Udiana Purnaning Jiwa”, yakni altar pemuliaan bahasa, aksara dan sastra Bali sebagai taman spiritual untuk membangun jiwa yang utama, suci dan sempurna.

Baca juga:  Denpasar Anggarkan Insentif untuk 262 Sulinggih pada 2026, Segini Besarannya

Dari tema besar itu, pihaknya kemudian mengangkat kata Kediri. “Kediri bisa dimaknai ke diri, kembali pada jiwa. Sekolah kami juga berada di Kecamatan Kediri. Maka lahirlah tema Eling Kediri, ingat pada diri sendiri, pada swadharma sekaligus memperkenalkan jati diri sekolah,” ujarnya.

Purwanta menjelaskan, materi yang ditulis peserta adalah Prasasti Eling Kediri. Isinya mengajarkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab, bagaimana nilai itu disampaikan dan ditularkan, hingga akhirnya menjadi pegangan untuk menuju kesempurnaan dan bakti kepada almamater serta budaya Bali.

Baca juga:  Penerapan Hari Pertama, Seluruh Pegawai Pemprov Taat Gunakan Tumbler

Menurutnya, pola ini sengaja dipilih karena kegiatan Bulan Bahasa Bali selama ini identik dengan lomba. Pesertanya terbatas, sedangkan siswa lain hanya menonton.

“Kami ingin selaras dengan kurikulum sekarang, pembelajaran harus memberi pengalaman langsung. Jadi bukan hanya perwakilan yang ikut, semua merasakan bagaimana nyurat lontar, termasuk guru dan pegawai yang mungkin belum pernah mencoba,” tegasnya.

Ia menambahkan, keterlibatan undangan juga bukan sekadar hadir membuka acara. Camat Kediri sebagai murdaning wilayah ikut duduk bersama nyurat lontar. “Massal di sini bukan mengejar jumlah, tetapi memberi pengalaman bersama,” katanya.

Baca juga:  Viral di Medsos Pria Kekar Pukul Warga 

Pemilihan nyurat lontar pun memiliki alasan kuat. Di dalamnya menyatu bahasa, aksara, dan sastra Bali. Bahkan dari Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Kediri yang hadir menyebut, kegiatan nyurat lontar massal seperti ini belum pernah dilaksanakan sebelumnya di wilayah tersebut.

Apresiasi juga datang dari Ketua Komite SMAN 1 Kediri, I Putu Jonit Sucahyono. Ia berharap gerakan serupa bisa terus berlanjut dan bahkan dikembangkan dengan kegiatan budaya Bali lainnya yang melibatkan banyak pihak.

“Sekolah sudah menunjukkan dukungan nyata dalam mengajegkan budaya Bali. Ke depan mudah-mudahan lahir lagi inovasi lain yang sifatnya massal,” ujarnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN