
SINGARAJA, BALIPOST.com – Sebagai upaya melestarikan Bahasa Bali, Desa Adat Buleleng menggelar lomba nyurat aksara Bali tingkat anak Sekolah Dasar (SD) serta lomba pidato Bahasa Bali antar krama, Kamis (5/2).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bahasa Bali yang digelar serentak di seluruh desa adat di Bali.
Ketua Panitia kegiatan, Putu Mahendra, menjelaskan lomba nyurat aksara Bali diikuti oleh 14 anak SD. Sementara lomba pidato Bahasa Bali diikuti 14 peserta dengan rentang usia 30 hingga 71 tahun. Seluruh peserta merupakan krama dari 14 banjar adat yang ada di wilayah Desa Adat Buleleng.
Menurut Mahendra, pelibatan krama lanjut usia dalam lomba pidato sengaja dilakukan untuk memberikan teladan kepada generasi muda. Dengan demikian, anak-anak dan remaja diharapkan memiliki keberanian serta mental yang kuat untuk menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin memberikan contoh bahwa krama yang sudah berusia lanjut saja masih mampu dan berani tampil menggunakan Bahasa Bali. Kalau yang tua bisa, kenapa yang muda tidak bisa,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat generasi muda untuk terus menggunakan Bahasa Bali, sekaligus menularkannya kepada lingkungan sekitar, baik di keluarga maupun pergaulan sebaya, sehingga Bahasa Bali tetap lestari.
Sementara itu, Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, mengatakan lomba tersebut dilaksanakan sesuai arahan Dinas Pemajuan Masyarakat Desa Adat (PMDA) Provinsi Bali. Setiap desa adat diwajibkan menyelenggarakan kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa Bali sebagai bentuk komitmen pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali.
“Sebagai kelian desa adat, saya mengeluarkan surat keputusan pembentukan panitia. Anggaran pelaksanaan lomba ini bersumber dari Dana BKK Provinsi Bali,” jelas Sutrisna.
Lebih lanjut, Sutrisna menyebut para pemenang lomba, khususnya juara satu, dua, dan tiga, akan mendapatkan pembinaan lanjutan dari penyuluh Bahasa Bali. Pembinaan ini dilakukan agar para juara siap mewakili Desa Adat Buleleng pada ajang lomba di tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.
“Para juara nantinya akan dibina secara khusus agar mampu bersaing dan mengharumkan nama desa adat di jenjang yang lebih tinggi,” katanya. (Yudha/balipost)










