Lomba Ngetik Antuk Keyboard Aksara Bali Tingkat Provinsi digelar serangkaian SMK Festival 2025, Kamis (10/4/2025). (BP/Agus Pradnyana)

DENPASAR, BALIPOST.com – Upaya pelestarian aksara Bali melalui pemanfaatan teknologi digital terus didorong oleh Pemerintah Provinsi Bali. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah penggunaan keyboard aksara Bali di lingkungan sekolah.

Namun demikian, kebijakan ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang secara khusus diberikan Gubernur Bali, Wayan Koster kepada Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali untuk dioptimalkan implementasinya di dunia pendidikan.

Kepala Disdikpora Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, menjelaskan bahwa penggunaan keyboard aksara Bali tidak hanya menyasar sekolah-sekolah yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Bali, tetapi juga akan diperluas hingga jenjang SD dan SMP yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota.

“Optimalisasi penggunaan aksara Bali melalui keyboard tidak hanya diterapkan di SMA, SMK, dan SLB, tetapi akan dikolaborasikan dengan pemerintah kabupaten/kota hingga ke tingkat SMP dan SD,” ujar Wesnawa Rabu (4/2).

Baca juga:  Tahun 2024, Pengadaan Produk TIK Bidang Pendidikan Ditargetkan 17 Trilliun

Menurutnya, strategi ini menjadi langkah ke depan dalam menjaga keberlanjutan aksara Bali di tengah perkembangan teknologi digital. Melalui penggunaan keyboard aksara Bali, generasi muda diharapkan semakin terbiasa menggunakan aksara daerah dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari penggunaan aksara melalui keyboard, otomatis kita bisa memperkuat kearifan lokal dan memastikan karakteristik aksara Bali tetap digunakan oleh generasi-generasi muda,” tegasnya.

Terkait implementasi di dunia pendidikan, Wesnawa menegaskan bahwa secara regulasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah membuka ruang bagi muatan lokal untuk dimasukkannya penggunaan aksara Bali dalam kurikulum.

“Kami di Dinas Pendidikan sudah menyusun Tata Kelola SDM Bali Unggul, termasuk kearifan lokalnya. Tinggal di tahun ajaran 2026 nanti, kami melakukan inovasi dan transformasi tata kelola pendidikan yang lebih mensejahterakan, merata, dan berdampak bagi masyarakat,” jelasnya.

Baca juga:  Dari 332 Formasi CPNS Disetujui, Di Buleleng yang Lolos "Passing Grade" Cuma 179 Orang

Sementara itu, mengenai rencana pembagian keyboard aksara Bali ke sekolah-sekolah, Wesnawa menyebut hal tersebut masih dalam tahap kajian. Opsi yang dipertimbangkan antara lain digratiskan atau dikolaborasikan dengan anggaran yang telah dialokasikan di masing-masing satuan pendidikan. “Itu masih kita kaji. Prinsipnya adalah sinergi dan penggunaan anggaran yang efektif dan efisien,” tandas Wesnawa.

Sebelumnya, pada saat pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Sabtu (31/1), Gubernur Koster memastikan akan mengintensifkan program penggunaan keyboard beraksara Bali hingga ke jenjang SMP dan SD. Penguatan program ini dilakukan setelah mendapat apresiasi dari Kementerian Kebudayaan.

Gubernur Koster secara khusus meminta jajaran Dinas Pendidikan untuk melanjutkan dan memperluas implementasi program tersebut. “Pak Kadis Pendidikan itu keyboard aksara Bali tolong diteruskan. Programnya itu diintensifkan lagi sampai ke SMP dan SD,” tegas Koster.

Baca juga:  Komisi A Dapati SD Kekurangan Rombel

Menurut Gubernur Bali dua periode ini, keyboard aksara Bali merupakan satu-satunya di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan aksara daerah. Keunikan tersebut, kata Koster, mendapat apresiasi langsung dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon. “Jadi keyboard itu nggak ada aksara latinnya, tapi hanya aksara Bali saja,” jelasnya.

Koster juga mengaku gembira melihat kemampuan peserta didik yang dinilai cepat beradaptasi dalam menggunakan keyboard aksara Bali. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak menjadi penghalang bagi generasi muda untuk tetap menggunakan dan melestarikan aksara daerah.

Ia menegaskan, pemanfaatan keyboard aksara Bali menjadi bagian penting dari strategi pelestarian budaya Bali yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus memperkuat identitas budaya sejak usia dini. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN