Drama Gong Lawas tampil memukau saat pentas pada PKB XLVIII 2026, di Panggung Ardha Candra, Kamis (2/7) malam. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kerinduan masyarakat terhadap pementasan Drama Gong Lawas terbayar saat Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL) tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Kamis (2/7) malam. Ribuan penonton memadati arena pertunjukan sejak sekitar pukul 18.00 WITA, jauh sebelum pementasan dimulai dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Antusiasme masyarakat terlihat dari penuhnya tribun oleh penonton dari berbagai kalangan, mulai keluarga, komunitas seni hingga generasi muda. Tepuk tangan meriah mengiringi dimulainya lakon “Grenggeng Maya”, menandai drama gong masih memiliki daya tarik kuat sebagai salah satu seni pertunjukan tradisional Bali.

Pementasan menghadirkan perpaduan dialog jenaka khas drama gong, iringan gamelan, tari, serta dramatika panggung. Sebanyak 22 pemain drama didukung 28 penabuh gamelan membawakan kisah yang sarat pesan moral mengenai fitnah, ambisi, kekuasaan, dendam, hingga pentingnya menghormati orang tua.

Ketua Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL), Anak Agung Gede Oka Aryana, SH., M.Kn., didampingi Wakil Ketua Dewa Putu Kandel, S.Pd., M.Pd., mengatakan membludaknya penonton menjadi penyemangat bagi para seniman untuk terus menjaga eksistensi drama gong.

Pria yang berprofesi sebagai notaris ini menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Bali, Wayan Koster yang di tengah padatnya agenda tetap menyempatkan hadir menyaksikan pertunjukan dari awal hingga akhir. Menurutnya, kehadiran gubernur menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam memberikan perhatian kepada para seniman sekaligus melestarikan seni budaya Bali sesuai visi pembangunan daerah.

Baca juga:  Masyarakat Antusias Saksikan Hiburan Rakyat 15 Tahun Bali TV

“Beliau (Gubernur Koster,red) sangat menikmati pertunjukan. Kebetulan saya duduk berdampingan dengan Bapak Gubernur. Bahkan setelah pementasan beliau cukup lama berada di atas panggung untuk berfoto bersama dan memberikan dukungan langsung kepada para seniman,” ujarnya, Jumat (3/7).

Agung Aryana juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang memenuhi Ardha Candra dan mengikuti pertunjukan hingga selesai. Menurutnya, antusiasme tersebut menunjukkan masyarakat masih memiliki rasa memiliki terhadap seni drama gong sehingga keberlangsungannya di masa depan semakin terjaga.

Tak lupa ia mengapresiasi seluruh kru DGL, baik para pemain maupun penabuh gamelan, yang telah menjalani latihan intensif sebelum pementasan sehingga mampu menghadirkan pertunjukan berkualitas dan mendapat sambutan hangat dari penonton.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kurator PKB XLVIII Tahun 2026, Prof. I Wayan Dibia, yang terus memberikan arahan agar garapan drama gong tetap berpijak pada pakem, namun tetap mampu menghibur masyarakat.

Sementara itu, Kurator PKB XLVIII Tahun 2026, Prof. I Wayan Dibia, mengapresiasi kualitas pertunjukan, terutama kemampuan akting para pemain, kekuatan pesan moral, serta unsur musikal yang tetap menjadi ciri khas drama gong.

“Secara umum bagus. Pesannya bagus, kemampuan aktingnya juga bagus, dan elemen musikal drama gong tetap menjadi daya tarik utama,” ujarnya, Jumat (3/7).

Baca juga:  Omzet UMKM Kuliner PKB 2026 Kloter I Tembus Rp2,5 Miliar, Kloter II Mulai Tempati Stan Art Center

Meski demikian, ia memberikan sejumlah catatan evaluasi agar kualitas pementasan terus meningkat. Menurutnya, beberapa adegan masih berlangsung terlalu panjang sehingga menurunkan intensitas dramatik pertunjukan. Selain itu, improvisasi pemain dinilai masih perlu dikendalikan agar tidak keluar dari alur naskah.

Ia mencontohkan masih adanya dialog yang membawa konteks kekinian atau menyebut Bali, padahal cerita berlatar kerajaan fiktif. Menurutnya, hal tersebut tidak sejalan dengan konsep artistik yang telah disusun.

“Di panggung PKB, pemain harus disiplin terhadap naskah. Jangan membawa penonton keluar dari dunia cerita. Berbeda dengan pementasan di desa yang lebih menekankan hiburan, di PKB garapan harus memiliki tanggung jawab artistik,” tegasnya.

Prof. Dibia juga menyoroti penggunaan bahasa Bali yang dinilai masih perlu diperbaiki, terutama dalam penggunaan tingkat tutur seperti kata “tiang” dan “titiang” yang harus disesuaikan dengan hubungan antartokoh.

Di sisi lain, ia memastikan tidak menemukan dialog vulgar selama pementasan. Menurutnya, kekuatan humor drama gong justru lahir dari kemampuan para pemain membangun imajinasi penonton tanpa harus menggunakan kata-kata yang tidak pantas.

“Kalau kalimat jorok tidak ada. Justru kekuatan drama gong itu mampu membangun imajinasi penonton tanpa harus vulgar,” katanya.

Baca juga:  Tidak Baik untuk Bercocok Tanam, Berikut Ala Ayuning Dewasa 13 Desember 2025

Gubernur Koster yang menyaksikan langsung pertunjukan dari awal hingga akhir turut memberikan apresiasi atas penampilan para seniman yang mampu menghadirkan lawakan segar sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Bali.

“Suksma katur majeng ring para seniman terutama para sepuh seniman Drama Gong Lawas atas dedikasinya yang terus menjaga dan melestarikan kesenian drama gong,” ujar Koster.

Lakon “Grenggeng Maya” mengangkat intrik di Kerajaan Bhuwana Raja yang berpusat pada tokoh Diah Ratnasari, permaisuri pertama yang terusir akibat fitnah hingga memperoleh kesaktian Aji Grenggeng Maya. Di sisi lain, Diah Bedawati sebagai permaisuri kedua juga mempelajari ilmu yang sama demi merebut kekuasaan dan memengaruhi sang raja. Konflik keduanya menjadi media penyampaian pesan tentang bahaya fitnah, keserakahan, penyalahgunaan kekuatan, serta pentingnya menghormati orang tua.

Naskah pertunjukan disusun Ida Bagus Gede Mambal berdasarkan ide cerita A.A. Gede Kartika, disutradarai Jero Mangku Dasaran Suyadnya, dengan penataan tabuh oleh Ida Bagus Kartika.

Membludaknya penonton di Panggung Terbuka Ardha Candra menjadi bukti drama gong masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Bali. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola hiburan, seni pertunjukan tradisional ini tetap mampu menyatukan lintas generasi sekaligus menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya Bali melalui sajian yang terus berkembang tanpa meninggalkan pakemnya. (Adv/balipost)

BAGIKAN