
DENPASAR, BALIPOST.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” resmi ditutup Gubernur Bali Wayan Koster di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Art Center Denpasar, Sabtu (11/7) malam.
Penutupan ajang seni budaya terbesar di Bali itu sekaligus menjadi momentum peluncuran tema PKB XLIX Tahun 2027, yakni “Wana Kerthi: Byana Sanarana Loka: Hutan Penyangga Kehidupan”, serta pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 yang menjadi ruang ekspresi seni modern dan kontemporer Bali.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali juga menyerahkan penghargaan Wimbakara kepada para pemenang berbagai lomba selama penyelenggaraan PKB XLVIII. Selain itu, penghargaan Adhi Sewaka Nugraha diberikan kepada 12 seniman yang dinilai berjasa dalam pelestarian, penguatan, dan pemajuan seni tradisi klasik maupun kesenian rakyat Bali.
Masing-masing penerima memperoleh piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp50 juta, meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam sambutannya, Gubernur Wayan Koster menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan PKB XLVIII yang berlangsung selama 29 hari sejak dibuka pada 13 Juni hingga ditutup pada 11 Juli 2026.
Menurut Koster, capaian PKB tahun ini menunjukkan peningkatan hampir di seluruh aspek. Sebanyak 673 lembaga seni terlibat aktif menampilkan karya, meningkat dari 517 lembaga pada tahun 2025. Jumlah seniman yang terlibat mencapai 20.929 orang, atau bertambah lebih dari 900 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Produktivitas karya seni juga mengalami lonjakan signifikan. Selama PKB XLVIII ditampilkan 879 karya seni, jauh lebih banyak dibandingkan 592 karya pada penyelenggaraan tahun lalu.
“Ini menunjukkan kreativitas dan semangat para seniman Bali terus tumbuh. Kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh lembaga seni dan para pencipta karya,” ujar Koster.
Dari sisi kunjungan, antusiasme masyarakat juga meningkat tajam. Hingga Sabtu siang sebelum acara penutupan, jumlah pengunjung telah menembus lebih dari 1,8 juta orang, meningkat sekitar 200 ribu pengunjung dibandingkan PKB 2025 yang mencapai sekitar 1,6 juta orang.
Tak hanya masyarakat lokal dan wisatawan domestik, PKB juga semakin diminati wisatawan mancanegara. Tahun ini tercatat 5.743 wisatawan asing menghadiri berbagai kegiatan PKB, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar 2.400 orang.
Di ruang digital, gaung PKB juga semakin kuat. Konten-konten PKB menjangkau lebih dari 2,1 juta akun di media sosial dengan total 319 ribu lebih tayangan (views).
Sektor ekonomi kreatif yang menjadi bagian penting PKB juga menunjukkan hasil positif. Tahun ini terdapat 75 stan kuliner, naik dari 52 stan pada PKB 2025. Nilai transaksi kuliner mencapai lebih dari Rp5 miliar.
Sementara itu, sektor industri kecil menengah (IKM) diikuti 124 peserta dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp11,3 miliar. Meski jumlah peserta IKM sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, total transaksi kuliner dan IKM selama PKB XLVIII tetap melampaui Rp16 miliar.
Gubernur Koster menegaskan, PKB bukan sekadar ajang pertunjukan seni, tetapi telah menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
“Selain menyaksikan seni budaya, kita juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui UMKM, kuliner, dan IKM. Seni dan ekonomi berjalan bersama,” katanya.
Usai menutup PKB, Koster secara resmi membuka Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 yang tahun ini mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi” yang dimaknai sebagai pengembaraan menuju jiwa yang maha suci.
Festival tersebut akan menghadirkan berbagai agenda, mulai dari pementasan seni modern, parade, lomba, lokakarya, sarasehan, pameran, bursa buku hingga penganugerahan Bali Jani Nugraha.
Menurut Koster, keberadaan Festival Seni Bali Jani melengkapi PKB sebagai ruang bagi perkembangan seni modern dan kontemporer tanpa meninggalkan akar budaya Bali.
Dalam pidatonya, Koster juga menekankan pentingnya memberikan penghargaan kepada para seniman sebagai penjaga keberlangsungan budaya Bali. Ia menilai pemerintah hanya dapat menghadirkan kebijakan, sedangkan kehidupan seni budaya tetap bergantung pada para pelaku seni.
“Kita perlu mengapresiasi para seniman. Tanpa mereka, seni Bali tidak mungkin hidup secara berkelanjutan. Pemerintah hanya membuat kebijakan, tetapi yang menghidupkan budaya adalah para seniman,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para kepala daerah agar memiliki kecintaan yang utuh terhadap seni dan budaya Bali. Menurutnya, tugas pemimpin bukan hanya mengalokasikan anggaran, melainkan membangun ekosistem kebudayaan melalui dukungan nyata kepada para seniman dan ruang-ruang pertunjukan.
“Saya mencatat siapa saja kepala daerah yang hadir selama PKB berlangsung. Menjadi kepala daerah di Bali wajib hukumnya mencintai seni dan budaya Bali. Kalau tidak, ada risikonya,” tandasnya.
Di akhir sambutannya, Koster mengajak seluruh masyarakat Bali terus menjaga dan mencintai budaya sebagai fondasi utama identitas Pulau Dewata sekaligus penopang sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
“Budayalah yang membuat Bali dikenal dunia. Budaya pula yang menjadikan Bali sebagai destinasi wisata utama dan menggerakkan ekonomi secara berkelanjutan. Karena itu jangan pernah bosan mencintai budaya Bali. Jadilah generasi yang bertanggung jawab menjaga warisan luhur para leluhur,” pungkasnya sebelum secara resmi menutup PKB XLVIII dan membuka Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026. (kmb/balipost)










