Gubernur Bali, Wayan Koster. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster melontarkan sindiran kepada sejumlah kepala daerah yang dinilai kurang menunjukkan komitmen terhadap pelestarian seni dan budaya Bali.

Sindiran itu disampaikan saat memberikan sambutan pada penutupan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Sabtu (11/7) malam.

Di hadapan ribuan seniman, budayawan, dan masyarakat yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra, Koster terlebih dahulu menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemerintah kabupaten/kota yang telah mengalokasikan anggaran untuk mengirimkan duta kesenian tampil di ajang tahunan tersebut.

“Kita mengucapkan terima kasih yang tulus dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua partisipan, yang berkarya, yang megambel, menabuh, menari, dan seluruh Bupati serta Wali Kota yang telah mengeluarkan kebijakan program dengan anggarannya sehingga mengirimkan peserta, dutanya ke Pesta Kesenian Bali,” ujarnya.

Baca juga:  Upacara HUT TNI Diawali Pementasan Sosiodrama

Namun, setelah memberikan apresiasi, Koster mengungkapkan bahwa dirinya mencatat tingkat kehadiran para kepala daerah selama penyelenggaraan PKB berlangsung.

“Tapi saya sudah mencatat juga, selama acara Pesta Kesenian Bali ini berlangsung, Bupati ini hadir berapa kali, Wali Kota hadir berapa kali. Gubernur hadirnya 16 kali. Di data soalnya,” katanya yang langsung disambut perhatian para hadirin.

Koster bahkan mengungkapkan masih ada bupati yang sama sekali tidak pernah hadir menyaksikan pertunjukan selama PKB berlangsung.

“Ada juga yang Bupati nggak pernah hadir selama Pesta Kesenian Bali berlangsung. Catat! Catat itu. Kita di Bali ini, menjadi pemimpin, nomor satu harus utuh cinta pada budaya Bali. Utuh,” sindir Koster.

Menurut Koster, ukuran kecintaan seorang kepala daerah terhadap budaya tidak cukup hanya diwujudkan melalui pengalokasian anggaran dalam APBD. Kehadiran langsung untuk memberikan dukungan moral kepada para seniman juga merupakan bentuk kepemimpinan yang penting.

Baca juga:  Menteri LH, Gubernur Koster dan Wali Kota/Bupati Deklarasikan Bali 100 Persen Memilah Sampah

“Kita di Bali ini, menjadi pemimpin, nomor satu harus utuh cinta pada budaya Bali. Karena sebagai pemimpin tugasnya adalah membangun suasana ekosistem budaya. Bukan sekadar mengalokasikan APBD,” ujarnya.

Ia menegaskan, kepala daerah harus mampu memberi motivasi kepada para seniman agar terus berkarya dan memberikan semangat kepada masyarakat untuk mencintai seni budaya Bali.

“Yang utama adalah mendorong para seniman, memberi motivasi kepada seniman untuk terus berkarya. Memberikan semangat pada pengunjungnya, penontonnya, supaya hidup ekosistem seni budaya di Bali,” katanya.

Karena itu, Koster menegaskan bahwa kecintaan terhadap seni dan budaya merupakan syarat moral bagi setiap kepala daerah di Bali.

“Kalau menjadi kepala daerah Bali, wajib hukumnya cinta pada seni dan budaya Bali. Lamen sing keto, da suba (kalau tidak begitu, jangan jadi kepala daerah,red). Risiko,” ucapnya.

Baca juga:  Jika Kasus COVID-19 Baru Terus Bertambah, Gubernur Koster Khawatir Pusat akan Lakukan Ini

Dalam kesempatan tersebut, Koster juga memberikan apresiasi kepada Bupati Klungkung yang menurutnya kini lebih aktif menghadiri kegiatan PKB dibandingkan sebelumnya.

“Bupati Klungkung dulunya males-males, sekarang sudah rajin. Tepuk tangan Bupati Klungkung,” ujarnya yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Menutup pesannya, Koster mengingatkan besarnya pengorbanan para seniman yang berlatih selama berbulan-bulan demi menghasilkan karya terbaik untuk tampil di panggung PKB. Karena itu, ia berharap para kepala daerah turut hadir memberikan penghargaan atas dedikasi tersebut.

“Coba bayangkan seniman kita itu membuat tampilan, latihannya berbulan-bulan sampai menjadi karya yang sangat berkualitas, layak tampil di forum Pesta Kesenian Bali. Masa kita nonton saja tidak sanggup,” katanya.

Pernyataan itu, lanjut Koster, menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali pada tahun mendatang agar seluruh pemimpin daerah benar-benar menunjukkan keberpihakan nyata terhadap penguatan ekosistem seni dan budaya Bali. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN