
DENPASAR, BALIPOST.com – Perubahan iklim perlu diantisipasi yang menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sumber daya air. Kondisi tersebut mendorong Perumda Tirta Sewakadarma atau PDAM Kota Denpasar untuk memperkuat upaya menjaga ketersediaan air baku. Salah satu upaya yang ditawarkan yakni menjaga pelestarian daerah tangkapan air (catchment area).
Hal itu terungkap dalam Sarasehan Transformasi Air Berkelanjutan yang digelar Perumda Tirta Sewakadarma Kota Denpasar, Senin (8/6), sebagai rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-29 perusahaan daerah tersebut. Direktur Utama Perumda Tirta Sewakadarma Kota Denpasar, I Putu Yasa, mengatakan, pengelolaan air tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga untuk menjamin ketersediaannya bagi generasi mendatang.
Oleh karena itu, berbagai masukan dari akademisi, pemerintah, dan praktisi sektor air diperlukan untuk merumuskan langkah strategis menghadapi ancaman berkurangnya sumber daya air akibat perubahan iklim.
“Air ini tidak hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk masa depan. Karena itu kami ingin mendapatkan berbagai masukan mengenai bagaimana mengelola air agar tetap berkelanjutan di tengah perubahan iklim yang sedang terjadi,” ujarnya.
Dalam sarasehan tersebut, Perumda Tirta Sewakadarma menghadirkan tiga narasumber yakni Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana, Prof. Ir. Kadek Diana Hermayani, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, serta Direktur Eksekutif Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) Pusat, Dr. Subekti.
Menurut Putu Yasa, salah satu rekomendasi yang mengemuka untuk menjaga sumber air baku yakni pentingnya menjaga kelestarian catchment area sebagai sumber utama keberlangsungan air baku. Salah satu skema yang dapat diterapkan adalah pemberian insentif kepada kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang selama ini berperan menjaga kawasan hutan dan daerah tangkapan air. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Yang terpenting adalah bagaimana melestarikan catchment area. Salah satu usulan yang disampaikan adalah memberikan insentif kepada kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang ada di kawasan hutan. Dengan dukungan CSR, hutan dapat tetap lestari dan sumber air bisa terjaga,” katanya.
Selain masukan lain yang ditawarkan dalam sarasehan tersebut ialah memperbanyak sumber-sumber resapan air di hilir sehingga saat musim hujan, air yang turun tidak banyak terbuang ke sungai. “Kita tampung di sumber-sumber resapan,” imbuh Putu Yasa.
Melalui sarasehan tersebut, Perumda Tirta Sewakadarma berharap dapat merumuskan langkah-langkah konkret dalam mewujudkan transformasi pengelolaan air yang berkelanjutan, sehingga kebutuhan air masyarakat dapat terus terpenuhi di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. (Widiastuti/bisnisbali)
Foto : nunggu eka









