Sampah-sampah terkumpul di salah satu titik pinggiran Jalan Sunset Road, Seminyak, Badung, Selasa (31/3). (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Program Aksi Percepatan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (Asper PSBS) yang digencarkan Pemerintah Kabupaten Badung sejak Maret 2026 terus berjalan. Di tengah progres tersebut, masih terdapat masyarakat yang belum menerima komposter bag, terutama penduduk pendatang yang tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) Badung.

Kondisi ini dibenarkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung, Made Rai Warastuthi. Meski belum mendapatkan fasilitas komposter bag, masyarakat tetap diminta tidak menunda pengolahan sampah organik secara mandiri di rumah.

“Kita terus menghimbau atau mensosialisasikan supaya seluruh masyarakat mempersiapkan ini tanggal 1 Agustus ini minimal sudah bisa mengolah sampah organik secara mandiri di rumah masing-masing,” terangnya.

Ia menegaskan, pengelolaan sampah berbasis sumber bukan semata bergantung pada bantuan sarana, melainkan kesadaran dan kebiasaan masyarakat dalam memilah serta mengolah sampah dari rumah tangga.

Baca juga:  Tinjau Banjir di Antiga, Bupati Gus Par Instruksikan PUPR Buat Drainase

Dalam implementasi Asper PSBS, DLHK Badung telah melakukan pendataan, sosialisasi, hingga pengawasan langsung ke lapangan. Petugas bahkan telah menyasar sekitar 109 ribu kepala keluarga (KK) untuk memastikan kesiapan masyarakat dalam pengelolaan sampah.

DLHK Badung juga mencatat hampir 142 ribu composter bag telah didistribusikan kepada masyarakat. Meski belum merata sepenuhnya, program ini dinilai mampu meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola sampah secara mandiri.

“Di situ dilihat ada tempat pemilahan sampah, punya tempat pemilahan sampah, melakukan pemilahan, kemudian yang terakhir apakah mempunyai atau melakukan pengolahan sampah organik. Saat ini di Kabupaten Badung sudah seluruhnya, seluruh KK sudah terbagi composter bag-nya,” ujanya.

Baca juga:  Ibu Berperan Sentral Cetak Generasi Muda Berkarakter

Namun demikian, di lapangan masih ditemukan kelompok masyarakat tertentu yang belum terakomodir, khususnya penduduk non permanen. Untuk itu, DLHK terus mendorong solusi alternatif agar mereka tetap bisa berpartisipasi dalam pengurangan sampah.

Seiring pelaksanaan program ini, dampak positif mulai terlihat. Volume sampah yang dikirim ke TPS 3R maupun TPST di Badung berhasil ditekan hingga sekitar 60 persen. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemilahan dan pengolahan sampah di tingkat rumah tangga mulai efektif.

“Kalau dari hasil selama ini, pemantauan kita selama ini kurang lebih 60-70 persen itu kan sampah terdiri dari sampah organik. Apabila itu berhasil dipisahkan tentunya ya berkurangnya sekitar 60 persen,” ungkapnya.

Baca juga:  Kesadaran Memilah Mulai Muncul, Sampah TPA Peh Berkurang Ribuan Ton Setahun

Menjelang rencana penutupan TPA Suwung pada 1 Agustus 2026, pemerintah daerah terus mengoptimalkan berbagai upaya, termasuk penguatan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan penanganan residu.

“Kalau kita berupaya optimal ya, berupaya maksimal ya dengan adanya alat pengolah residu, kemudian mudah-mudahan insinerator juga bisa digunakan. Setelah itu pemilahan masyarakat juga ini, jadi kita ini kita optimalkan semuanya,” imbuhnya.

Rai Warastuthi berharap seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang belum menerima komposter bag, tetap mengambil peran aktif dalam pengelolaan sampah demi menjaga lingkungan yang bersih dan berkelanjutan. (Parwata/balipost)

 

BAGIKAN