Tim BRIN melakukan kunjungan lapangan ke TPS 3R Baktiseraga pada Kamis (16/4). (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membidik Kabupaten Buleleng sebagai salah satu lokasi strategis dalam kajian pengelolaan sampah di Bali. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Desa Baktiseraga yang dinilai memiliki potensi dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Tim BRIN yang dipimpin Analis Kebijakan, Argo Nugroho, bersama para periset melakukan kunjungan lapangan ke TPS 3R Baktiseraga pada Kamis (16/4).

Kunjungan kali ini sebagai bagian dari kajian implementasi program Gerakan Bali Bersih Sampah. Kajian ini bertujuan mengumpulkan data faktual terkait sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Baca juga:  BPBD Karangasem Pasang Rambu Peringatan Erupsi Gunung Agung

Argo Nugroho mengungkapkan bahwa persoalan sampah di Bali memiliki tingkat urgensi tinggi. Selain berdampak pada kesehatan dan kebersihan lingkungan, persoalan ini juga berkaitan erat dengan keberlanjutan sektor pariwisata serta citra Bali sebagai destinasi internasional.

“Bali memiliki tantangan yang lebih kompleks karena selain isu kesehatan dan kebersihan, juga menyangkut wajah global pariwisata. Oleh karena itu, pengelolaan sampah menjadi sangat krusial,” ujarnya.

Baca juga:  TPS3R Desa Gelgel Kelola Sampah Jadi Pupuk Kascing Hingga Paving

Menurutnya, Buleleng dipilih sebagai lokasi kajian karena mewakili karakteristik wilayah pesisir utara dengan dominasi kawasan pedesaan. Data dari wilayah ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga implementatif dan tepat sasaran.

Sebelum turun ke lapangan, tim BRIN juga telah melakukan diskusi dengan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah desa, pengelola TPS 3R, hingga pengelola pasar. Dalam diskusi tersebut, peran sektor hulu menjadi sorotan, khususnya pentingnya edukasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber.

Baca juga:  Perluas Peluang Manggis Bali ke Tiongkok, Registrasi Kebun Dipercepat

Dari hasil kunjungan ke TPS 3R Desa Baktiseraga, BRIN menilai pengelolaan sampah di lokasi tersebut telah berjalan cukup baik dan stabil, terutama dalam pengolahan sampah organik. TPS 3R setempat bahkan telah memanfaatkan teknologi pengolahan, termasuk penggunaan alat hibah untuk mengubah sampah organik menjadi kompos.

“Kompos yang dihasilkan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional TPS 3R, tetapi juga mampu memberikan tambahan insentif bagi para pekerja,” imbuh Argo. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN