
GIANYAR, BALIPOST.com – Kemegahan bangunan baru Pasar Seni Sukawati ternyata belum menjadi jaminan keramaian bagi para pedagang. Memasuki bulan Februari 2026, kondisi pasar kebanggaan warga Gianyar ini terpantau lengang, terutama di lantai 2 dan 3. Minimnya kunjungan wisatawan memaksa para pedagang untuk memutar otak agar tetap bisa bertahan.
Sekretaris Dinas Perindag Kabupaten Gianyar, Wayan Suarta, Minggu (1/2) mendorong para pedagang untuk mulai beralih ke pemasaran digital. Mengingat ketatnya persaingan pusat oleh-oleh di Bali, kreativitas dalam promosi menjadi kunci utama.
“Pedagang sambil ngonten bisa sambil mengenalkan produk melalui media sosial. Ibarat sambil menyelam minum air. Kami terus mendorong promosi online ini agar menjadi gerakan kompak,” tegas Suarta.
Wayan Suarta mengajak setiap pedagang agar memposting kegiatan jual beli di Pasar Seni Sukawati Blok AB dan C di media sosial masing-masing. “Ajakan inovasi, ngonten sambil jualan,” jelasnya.
Ia mencontohkan Ketut Ronald pedagang di Pasar Seni Sukawati yang mengenalkan dan memasarkan produk lukisan melalui media sosial. Para pelanggan dan konsumen bisa mengetahui untuk mendapatkan produk lukisan Ketut Ronald bisa didapat di Pasar Seni Sukawati.
Di tengah kelesuan kunjungan ke Pasar Seni Sukawati, teknologi muncul sebagai solusi nyata. Ni Komang Pudak, pemilik store di lantai 2 Pasar Seni Sukawati sukses menembus pasar mancanegara melalui fitur Live Streaming TikTok. Strategi digital ini terbukti efektif meningkatkan skala usaha.
Komang Pudak mengakui live streaming juga menjadi sarana memberi tahu wisatawan bahwa lantai atas Pasar Seni Sukawati memiliki koleksi yang lengkap. Fenomena sepinya Pasar Seni Sukawati menunjukkan adanya pergeseran perilaku belanja wisatawan. Ni Komang Pudak menekankan integrasi promosi digital bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bagi pedagang konvensional jika ingin bertahan di era modern. Tanpa adaptasi teknologi dan perbaikan alur pengunjung dari pengelola, pedagang lantai atas dikhawatirkan akan terus bergantung pada keberuntungan kunjungan fisik yang tidak menentu. (Wirnaya/balipost)










