
DENPASAR, BALIPOST.com – Terkait imbauan kepada pedagang di pasar tradisional di Denpasar untuk mengelola sampahnya secara mandiri imbas rencana penutupan TPA Suwung, menuai kebingungan. Pedagang tradisional berharap ada solusi kemana sampah mereka harus dibuang.
Salah satunya diakui pedagang di Pasar Kumbasari, Ketut Wenten Aryani. Saat dijumpai, Senin (16/3), dia mengaku berharap ada solusi sehingga tidak harus membawa sampahnya pulang. Menurutnya untuk membawa sampah pulang ke rumah cukup berat dan akan menambah beban jumlah sampah di rumahnya.
“Saya harap ada solusi terbaik. Jangan sampai harus membawa sampah pulang, kan nambah sampah di rumah. Karena selama ini kan dibuang di pasar dan tidak pernah dibawa pulang,” paparnya.
Hal senada juga diakui salah seorang pedagang buah di Pasar Anyar Sari Batukandik, Yanto. Ia berharap ada arahan sampah tersebut dapat dibuang kemana. Terkait pemilahan sampah, dia pun mengaku setuju, namun demikian hendaknya bisa difasilitasi dalam pembuangan sampah setelah dipilah.
“Meskipun tidak dipungut uang sampah, tapi kan saya bingung mau dibawa kemana sampahnya. Mending tetap dipungut biaya dan sampahnya tidak dibawa pulang,” ujarnya.
Yanto pun mengaku telah mendapat pemberitahuan dari pengelola pasar jika TPA Suwung akan ditutup dan sampah harus dibawa pulang.
Disisi lain, pedagang bermobil dari Karangasem, Nengah Latri mengungkapkan selama ini memang ada petugas kebersihan yang membersihkan areal tempatnya berjualan. Ia berjualan di selatan Pasar Kreneng setiap dua hari sekali pada dini hari hingga pagi.
Ia mengaku belum mendapat imbauan untuk membawa sampahnya pulang. Meski begitu, ia mengaku memang tak menghasilkan banyak sampah dari barang dagangan yang dijualnya. Ia menjual aneka keperluan upacara seperti ceper, taledan, sabut kelapa, dan juga kelapa yang sudah dikupas sabutnya. “Kalau pun misalnya ada imbauan itu. Saya tidak masalah karena kan memang tidak menghasilkan sampah. Beda kalau misalnya jualan bunga,” katanya.
Sementara itu, Dirut Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar, IB Kompyang Wiranata mengatakan, imbauan ini bersifat sementara sampai ada pengelolaan sampah selain membuang ke TPA Suwung. Hal tersebut lantaran pihaknya tidak memiliki tempat membuang sampah setelah nanti tidak diperbolehkan membuang ke TPA Suwung. “Kalau kalau ditutup otomatis akan menumpuk di pasar dan membusuk. Seminggu saja, sudah penuh sampahnya,” ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya pun meminta pedagang mengelola sampahnya secara mandiri baik di rumah atau pun di kios. Untuk sampah non organik, pihaknya mengaku masih bisa membantu. Karena, selain memanfaatkan bank sampah, juga ada yang mengambil sampah tersebut untuk didaur ulang.
Meski demikian, Gus Kowi panggilan akrabnya mengaku, pihaknya bukan berarti tidak melakukan pengelolaan sampah. Sampah yang tercecer akan tetap ditangani. Perumda sendiri berencana akan menyediakan kantong plastik untuk melakukan pemilahan di pasar.
Selain itu, di 16 pasar yang dikelola Perumda, pihaknya akan menyediakan komposter untuk mengelola sampah organik yang tercecer. Saat ini Perumda juga tengah melakukan penjajakan mesin pencacah sampah organik.Namun pihaknya masih mencari solusi penanganan hasil cacahan tersebut. “Hasil cacahannya itu masih kami pikirkan juga. Nanti kalau misalnya dijadikan pupuk, bawa ke mana. Masih kami carikan solusinya,” imbuhnya.
Terkait pengawasan, Gus Kowi menyebut dilakukan oleh masing-masing petugas di setiap unit pasar. Selain itu, untuk menekan sampah yang dihasilkan, pihaknya juga mengimbau pedagang untuk mengurangi produksi sampah. “Misalnya memilih barang dagangan yang bersih, sehingga sampah bisa dikurangi. Juga pedagang meminta ke suplayer khususnya untuk bumbu agar yang segar,” katanya.
Karena kebijakan tersebut, ia mengatakan Perumda menghentikan sementara penarikan retribusi sampah atau karcis kebersihan kepada pedagang yang sebelumnya dikenakan bagi pedagang dengan produksi sampah cukup tinggi. (Widiastuti/balipost)










