Ilustrasi. Bali yang rawan bencana harus memiliki kesiapsiagaan mengatasi bencana. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali baru saja menerima penghargaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atas partisipasi aktif dalam penanggulangan bencana tahun 2019. Di balik penghargaan itu, BPBD Provinsi Bali rupanya bergulat di tengah keterbatasan.

Baik dari sisi peralatan maupun SDM. Menariknya, keterbatasan itu tak dianggap sebagai kendala tetapi justru dioptimalkan untuk mewujudkan Bali yang tangguh menghadapi bencana.

‘’Kalau dari sisi peralatan, secara kuantitatif itu relatif. Tetapi itu tidak menjadi kendala buat kami selalu mengoptimalkan kondisi eksisting, kondisi peralatan yang kami miliki,’’ ujar Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Made Rentin dikonfirmasi, Jumat (7/2).

Bagaimana soal anggaran, BPBD Provinsi hanya mengelola sebesar Rp 17 miliar lebih seperti halnya tahun 2019 lalu. ‘’Itu menyeluruh termasuk di dalamnya gaji personel (PNS dan non-PNS – red), beberapa agenda sosialisasi, pemeliharaan alat. Salah satunya alat sirene tsunami di sembilan titik,’’ paparnya.

Sejak tahun lalu, lanjut Rentin, pengadaan alat mulai dilakukan secara rutin. Termasuk update logistik yang sifatnya urgen, penting dan mendesak. Salah satunya adalah pengadaan mesin pemotong kayu (chainsaw) yang sekarang berjumlah 17 unit.

Sebagian sudah disebarkan untuk BPBD kabupaten/kota se-Bali. Artinya, selain digunakan sendiri oleh BPBD Provinsi juga untuk men-support minimnya peralatan di kabupaten/kota. ‘’Alat daripada diam di gudang, kan lebih baik dimanfaatkan, digunakan, dioperasionalkan oleh teman-teman,’’ jelasnya.

Terkait logistik, Rentin menyebut tahun lalu telah dilakukan pengadaan kebutuhan dasar masyarakat yang tertimpa bencana. Kebutuhan dasar ini mencakup selimut, bahan kebutuhan pokok, hingga air mineral. Minggu pertama bulan Januari lalu, logistik itu mulai disalurkan ke kabupaten/kota.

Dengan demikian, tidak hanya peralatan tapi juga logistik telah stand by di BPBD provinsi dan kabupaten/kota untuk mengantisipasi terjadinya bencana. ‘’Kalau ada masyarakat yang tertimpa angin puting beliung, kebakaran, longsor, sehingga dia mengalami shock secara psikis, kami hadir di sana untuk memberikan perhatian berupa support kebutuhan dasar dia,’’ paparnya.

Bicara SDM, menurut Rentin, sebetulnya masih jauh dari kata ideal sesuai analisis beban kerja. Personel yang dimiliki BPBD Bali idealnya 200 sampai 230 orang. Akan tetapi, posisi SDM saat ini hanya 80 personel. Walaupun di awal tahun 2020, BKD Provinsi Bali sudah menambah 21 personel lagi untuk BPBD.

Baca juga:  Hutan di Belakang Pasar Seni Geopark Dipenuhi Sampah

Namun keseluruhan jumlah 101 personel juga belum mencapai kata ideal. Mau tidak mau, kondisi ini harus dioptimalkan dengan membagi personel yang ada untuk mem-back up sembilan kabupaten/kota.

Rentin menambahkan, Pemprov Bali dan Basarnas telah meneken MoU dalam rangka penyediaan kru dan armada helikopter. Hal ini penting dalam kesiapsiagaan bencana, untuk melakukan penyelamatan ketika terjadi sesuatu seperti orang hilang. Mengingat, fungsi Basarnas adalah search and rescue.

Berdasarkan peta rawan bencana yang terbaru dirilis oleh Kementerian ESDM, Bali kini fokus pada kerawanan gerakan tanah atau longsor. Sebab, dari sembilan kabupaten/kota, hampir semuanya memiliki potensi pergerakan tanah atau longsor. ‘’Cuma potensi longsor kategori sedang sampai tinggi itu ada di enam kabupaten. Mulai dari Karangasem, Bangli, Buleleng, Badung Utara daerah Petang, Tabanan juga ada di daerah utara Kecamatan Pupuan-nya dan Jembrana,’’ jelasnya.

Selain itu, lanjut Rentin, Denpasar, Badung, Gianyar dan termasuk Tabanan memiliki potensi rawan banjir. Terutama di Kota Denpasar, pada kejadian terakhir saat hujan lebat dalam durasi cukup lama telah membuat beberapa genangan air. Ini sejalan dengan peringatan dini yang disampaikan oleh BMKG. Pihaknya sudah meneruskan peringatan itu kepada masyarakat agar segera melakukan evakuasi mandiri bila tinggal di zona merah atau daerah rawan. Terutama saat terjadi hujan lebat dengan durasi lama. Jangan sampai kejadian yang menimbulkan korban jiwa tahun lalu di Karangasem dan Buleleng kembali terulang.

‘’Itu kan tempat tinggal mereka berada di sisi tebing yang tingkat kecuramannya tinggi. Hujan lebat terjadi tengah malam, mereka sedang  tidur lelap. Ini sebagai pengalaman pahit, kami berharap terakhir kali terjadi,’’ pungkasnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.