Wisatawan turun dari kapal di Pantai Sanur. (BP/wan)

Oleh IGK Manila

Saya mungkin termasuk orang Bali yang sering ‘’pulang kampung’’, nyaris tanpa mengenal musim. Apalagi setelah pensiun dari dinas ketentaraan, itu menjadi salah satu cara yang rasanya pas untuk menikmati hidup. Selain bernostalgia dan bertemu sanak-keluarga, saya mempunyai sahabat-sahabat yang membuat saya selalu ingin pulang kampung.

Meskipun kini tak muda lagi, sudah hampir 78 tahun, kecintaan saya pada Bali tak pernah pupus. Di mana pun bekerja dan berada, saya tidak hanya menunjukkan kebanggaan menjadi orang Bali, tetapi tetap berusaha hidup sebagai orang Bali.

Rasanya saya tidak pernah melepaskan identitas ke-Bali-an saya. Mungkin kecintaan yang tak pupus itu yang membuat saya juga sering merenung tentang Bali dari waktu ke waktu. Muncul dalam benak saya pertanyaan-pertanyaan mengenai banyak hal, seperti politik, ekonomi, kehidupan masyarakat, Bali di masa mendatang, dan sebagainya.

Di antara semua pertanyaan yang berseliweran tersebut, salah satu yang cukup sering muncul adalah tentang bagaimana supaya pariwisata tetap hidup, berkembang, menyejahterakan orang Bali dan tentu saja menjadikan Bali tetap sebagai Bali.

Saya tidak bisa membayangkan kalau pariwisata mandek atau mati. Apa yang akan terjadi pada jutaan penduduk Bali yang menyandarkan hidup pada pariwisata? Bagaimana kalau peristiwa seperti Bom Bali 2002 dan 2005 terjadi lagi? Bagaimana kalau wisatawan tidak mau lagi datang ke Bali karena kalah menarik dari destinasi wisata lain di dunia ini?

Mungkin secara refleks, dalam beberapa kali pulang kampung belakangan ini, saya tertarik memperhatikan beberapa hal. Itu saya lakukan mulai dari waktu menikmati pemandangan dari pesawat, selama di bandara, berada dalam mobil melintasi jalanan menuju beberapa lokasi, dan berjalan kaki di beberapa lokasi wisata.

Saya mulai dari hal yang terkait dengan kondisi sebagai orang yang sudah lanjut usia. Walau termasuk orang yang tetap merasa kuat dan sanggup melakukan berbagai hal secara mandiri, saya umpamanya tak terlalu nyaman ketika berjalan di pinggir jalan raya, menyeberang atau bergerak di tengah keramaian orang berlalu-lalang.

Rasanya Bali telah menjadi begitu padat, bukan hanya dengan manusia, tetapi juga dengan sepeda motor dan mobil. Sebagai orang Bali yang telah hidup di beberapa zaman, saya merasa kehilangan kenyamanan yang sebelumnya pernah ada. Dan saya yakin, kenyamanan semacam itu adalah penting bagi pariwisata. Pertanyaan saya dalam hati, mungkinkah Bali bisa menjadi destinasi wisata yang ramah bagi semua orang dari berbagai kelompok usia? Meskipun bersepeda motor dan bermobil adalah hak asasi yang dijamin undang-undang, tidakkah perlu semacam terobosan transportasi yang memastikan kenyamanan semua orang dan juga ramah lingkungan?

Kadang-kadang saya merasa iri kenapa di berbagai destinasi wisata di negara-negara maju hal-hal semacam ini sangat diperhatikan. Selain keindahan dan daya tarik objek wisata, penyelenggara pariwisata di sana sangat memperhatikan kenyamanan dan pemeliharaan lingkungan. ‘’Kalau bukan karena faktor keunikan budaya, mungkin Bali akan ditinggalkan,’’ kadang-kadang saya membatin.

Dalam pikiran awam saya, memperbesar dan memperpanjang jalan raya bukanlah alternatif yang paling tepat. Apa yang dilakukan berbagai kota besar cukuplah menjadi contoh bahwa pilihan semacam itu tak berdampak jauh dan panjang.

Alternatif yang lebih baik adalah membangun moda trasportasi umum yang modern, ramah lingkungan, dan menyenangkan. Ada baiknya, saran saya Bali juga mulai memikirkan pembangunan Mass Rapid Transportation (MRT) atau Light Rail Transit (LRT). Moda ini bisa menghubungkan titik-titik paling ramai dan kota-kota terpenting yang ada di Bali.

Baca juga:  Rentan Terhadap Beragam Isu, Pariwisata Bali Harus Berbenah

Begitu juga, karena bisa dikatakan seluruh Bali memiliki kekayaan budaya dan alam untuk tujuan pariwisata, konsentrasi gerbang masuk Bali perlu ditambah. Denpasar dan sekitarnya sudah terlalu padat. Kita bisa saja, umpamanya, juga membuka bandara di Singaraja atau wilayah lain yang memungkinkan. Keprihatinan saya berikutnya terkait soal kebersihan dan keasrian. Ketika keluar dari Bandara Ngurah Rai, sebagai contoh, saya suka merasa risi dan sedih kalau melihat ada sampah, hawa panas karena kurangnya penghijauan atau puntung rokok berserakan. Demikian juga halnya kalau saya sedang berjalan-jalan di berbagai lokasi, baik tempat biasa atau wisata.

Sebagai orang yang peduli, kita tentu tidak bisa menyalahkan wisatawan, umpamanya kalau mereka memang tidak peduli kebersihan. Pengalaman mengajarkan saya betapa perlu dibangun suatu sistem yang efektif. Sistemlah yang akan membuat siapa pun menjadi terikat dan patuh, yang pada satu titik akan melahirkan kepedulian.

Untuk membangun sebuah sistem yang efektif, kita sebenarnya tak perlu belajar jauh-jauh. Negara tetangga kita Singapura, yang termasuk penyumbang wisatawan terbanyak ke Bali adalah contoh yang sangat baik. Secara jelas dan tegas pemerintah Singapura membuat peraturan dan menjalankannya tanpa pandang bulu. Cobalah buang sampah sembarangan di sana, kalau bisa. Keprihatinan lain yang mengganggu saya adalah soal keamanan. Dalam skala besar, cukuplah peristiwa bom 2002 dan 2005 terjadi sekali saja. Dalam skala yang kecil-kecil, keamanan wisatawan perlu menjadi perhatian semua orang. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari kita tahu polisi, tentara atau petugas keamanan formal lain tak selalu hadir di setiap tempat.

Di sini saya berpandangan betapa pentingnya pecalang. Demikian juga keberadaan forum desa, banjar dan subak bukan saja perlu dilestarikan secara simbolik, tetapi harus dihidupkan dan difungsikan. Dalam ilmu pertahanan, semua unsur tradisional ini sangat menentukan sebagai bagian dari sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (hankamrata). Dengan keyakinan seorang purnawirawan, saya melihat lembaga-lembaga ini efektif di masa lampau dan oleh karena itu juga efektif di masa sekarang dan akan datang. Harapan saya, pemerintah daerah, tokoh-tokoh adat dan agama serta unsur-unsur pimpinan daerah lainnya benar-benar memastikan hal ini.

Sebagai penutup, seiring dengan keberadaan pecalang, subak, banjar, dan desa, saya ingin menegaskan tentang nilai-nilai yang menjadi dasar itu semua, yakni untuk memastikan kenyamanan, keamanan dan kebersihan Bali sebagai provinsi pariwisata. Nilai-nilai yang melahirkan budaya Bali tersebut sudah teruji efektif, paling tidak sejak Bali dikenal sebagai destinasi wisata budaya dan alam oleh wisatawan mancanegara sejak abad ke-16.

Nilai-nilai tersebut mengakar pada penghormatan pada alam dan semua isinya. Tidak semata-mata simbolik, yang secara awam bisa dilihat seperti pada ornamen pura atau ukiran, penghormatan terhadap alam tersebut mencapai taraf spiritual.

Alam dan budaya Bali lebih terjaga, jika boleh membanding-bandingkan, adalah karena dalam kesadaran paling dalam orang Bali, alam tidak boleh rusak, sebab ia menjadi sumber kehidupan. Sistem pertanian tradisonal subak, sebagai contoh, berhasil karena mengikuti alur alam, bukan karena mengeksploitasinya secara semena-mena. Hanya, ketika zaman berubah manusia bertambah banyak, nilai dan budaya baru berdatangan, perlu dipastikan dialektika-dialektika yang tak putus. Di sinilah, sekali lagi peran pemerintah daerah, pemuka agama dan adat serta pihak-pihak lainnya sangat diperlukan, yakni supaya terlahir kebijakan-kebijakan publik yang berakar budaya dan tentu saja efektif.

1 KOMENTAR

  1. Terima kasih untuk opini yang membangunnya Pak.
    Satu pertanyaan yang terlintas, lalu paradigma apa yang harus ditanam ditiap pribadi yang bekerja sebagai pemimpin daerah seperti di desa dan banjar, yang juga merupakan ujung tombak pelindung masyarakat desa sekaligus ujung tombak bertemunya instansi pemerintahan serta wisatawan, agar tetap selalu memihak kepada jati diri rakyat Bali namun juga tidak terkecoh dengan berlimpahnya pemasukan dari sektor wisata?

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.