Sekretaris Asosisasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Miftahul Kirom. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Konsumsi kopi di dalam negeri pada lima tahun terakhir tumbuh 5–6 persen. Berbeda dengan konsumsi di dunia pada umumnya yang hanya tumbuh 1 persen. Sementara produksi kopi cenderung menurun. Dikhawatiran 2-3 tahun ke depan, Indonesia defisit bahan baku kopi sehingga harus mengimpor kopi.

Menurut Sekretaris Asosisasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Miftahul Kirom, setiap tahun Indonesia mengekspor kopi 340–450 ribu ton. Tingginya ekspor ini lantaran Indonesia mempunyai kopi yang sangat unik, berbeda dengan produksi yang dihasilkan oleh negara produsen kopi lainnya.

Akibatnya, harga kopi Indonesia sangat tinggi dibandingkan kopi dari negara lain, terutama Arabica. Sebagai gambaran, kopi Arabica asal Brazil harganya Rp 32.000 per kg, sedangkan kopi dari Indonesia Rp 90.000 per kg bahkan bisa lebih tinggi. Sementara kopi robusta Indonesia harganya rata–rata Rp 23.000 per kg.

Faktor yang mempengaruhi naik turunnya volume ekspor adalah produksi kopi di dalam negeri dan cuaca. Cuaca panas membuat produksi kopi turun. “Kami khawatir dari tahun ke tahun ekspor kopi Indonesia semakin turun. Selain faktor iklim juga karena konsumsi kopi di dalam negeri tumbuh 5–6 persen,” ungkap Kirom di sela–sela pembinaan usaha kecil di bidang kopi oleh Bank Mandiri, Selasa (10/12).

Tumbuhnya konsumsi di dalam negeri menyebabkan bahan baku yang dihasilkan petani banyak diserap di Tanah Air, sehingga berdampak pada penurunan volume ekspor. “Kami sudah beberapa kali bicara dengan pemerintah, supaya perhatiannya juga mulai diarahkan ke produksi. Kementan sudah bergerak di situ, cuma anggarannya sangat terbatas,” jelasnya.

Baca juga:  Tujuh UKM di Klungkung Miliki Produk Kualitas Ekspor

Di tengah konsumsi yang tumbuh, bahan baku semakin terbatas. Kopi dalam negeri diserap di dalam negeri untuk industri besar, industri kecil dan kedai-kedai kopi yang menjamur. Industri kopi besar melihat bahwa konsumsi kopi di dalam negeri sangat menarik, sehingga yang diekspor semakin berkurang.

Permasalahan yang dikhawatirkan muncul nantinya adalah jika bahan baku di dalam negeri kurang, Indonesia akan mengimpor. Tahun 2018 saja negara kita mengimpor 74.000 ton kopi untuk industri di dalam negeri. Karenanya, dua atau tiga tahun lagi Indonesia kekurangan bahan baku.

Bank Mandiri sebagai bank BUMN ingin hadir dalam tren kopi saat ini dengan mendorong tumbuhnya tata niaga kopi dari hulu ke hilir. Bank Mandiri mendorong kesejahteraan di hulu yaitu petani dan memajukan hilir (pengusaha kecil) dengan melakukan pembinaan.

“Ini merupakan aktualisasi merangkul pengusaha–pengusaha muda khususnya di Denpasar agar bisa maju,” sebut Regional Credit and Business Development Head Bank Mandiri Regional Bali dan Nusa Tenggara Sugrah didampingi Vice President CSR Center Bank Mandiri I Gede Arimbhawa Yasa.

Dalam pembinaan tersebut, ia mengajarkan tentang manajemen menjadi pengusaha yang sukses, cara mengelola keuangan dan membantu pemasaran. Saat ini kopi sedang tren sehingga diharapkan kopi Bali bisa go international. Sebelumnya pihaknya membina bidang usaha kain. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.