pengungsi
Proses belajar-mengajar di SMPN 3 Semarapura, Rabu (25/10). (BP/dok)

Oleh Aisyah Anggraeni

Program full day school kini sedang diuji coba berjalan pada beberapa sekolah. Sambil program itu berjalan, ada baiknya kita lakukan evaluasi guna menuju kebaikan. Program full day school itu merupakan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia yang menerapkan program lima hari sekolah. Kebijakan itu lebih dikenal dengan istilah ‘full day school’.

Kini, saat diujicobakan program itu mengundang banyak reaksi dari berbagai kalangan. Bukan hanya lembaga resmi yang angkat bicara. Tapi ketidaksetujuan ini juga datang dari pihak orangtua para peserta didik. Wajar jika akhirnya Presiden Joko Widodo turun tangan.

Sebetulnya program pendidikan yang dibuat Kemendikbud itu sesuai anjuran Kurikulum 2013. Kurikulum ini menetapkan bahwa siswa-siswi SD, SMP, maupun SMA diharapkan mengikuti kegiatan belajar di sekolah selama 8 jam perhari dalam 5 hari efektif belajar. Yaitu dimulai Senin hingga Jumat.

Jika waktu itu dijumlahkan dalam waktu seminggu, kegiatan belajar mengajar di sekolah akan berlangsung selama 40 jam. Sedangkan waktu istirahat dalam sehari hanya 90 menit, dan jika ditotalkan dalam seminggu, jumlah waktunya hanyalah 8 jam. Maka didapatlah perbandingan antara waktu belajar dengan waktu istirahat yang mereka miliki 1:5.

Hasil perbandingan itu sangatlah memprihatinkan. Padahal, jika dikaji ulang dengan riset Report College of Education and Human Development mengenai waktu yang efektif belajar di kelas bagi para siswa hanyalah 3 sampai 4 jam per hari. Berdasarkan riset, waktu otak manusia untuk berpikir dengan fokus adalah mulai pukul 09.00-11.00.

Sebab pada waktu ini hormon stres kortisol berada dalam kadar sedang. Hormon ini sangat membantu berpikir fokus. Uniknya, kondisi ini dialami semua golongan umur.

Sedangkan pada pukul 13.00-15.00, kemampuan otak untuk berpikir bisa dikatakan sangatlah tidak produktif. Apalagi setelah makan siang, akan terjadi penurunan suhu tubuh yang biasanya membantu menenangkan untuk tidur.

Dikarenakan tubuh sedang mencerna makan siang, tubuh pun menarik darah dari otak ke perut dan berharap bisa beristirahat sejenak. Maka, penerapan full day school bisa membuat para siswa merasa terlalu lelah dan letih dikarenakan membuat mereka pulang terlalu sore.

Baca juga:  Kehadiran Negara di Hati Siswa

Terlebih banyak di antara mereka yang sehabis pulang sekolah langsung lanjut pergi mengikuti les atau bimbingan belajar. Atau bagi murid tingkat SD untuk pergi mengaji.

Belum lagi guru di sekolah yang tetap memberikan PR (pekerjaan rumah) dan juga tugas jangka panjang yang memperumit keadaan para siswa. Memang tujuan para guru memberikan PR adalah baik, yakni memberi pemantapan materi kepada para siswa.

Namun apa boleh buat, hampir seharian penuh waktu siswa dihabiskan di sekolah. Ini membuat banyak siswa mengerjakan tugas dan menyiapkan hal lainnya pada waktu malam. Atau lebih parahnya lagi, mereka sampai-sampai rela bergadang hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas itu.

Perlu kita renungkan fenomena di atas. Durasi di sekolah sekitar delapan jam. Masuk pukul 07.00 dan para siswa baru bisa pulang pukul 16.00 selama lima hari setiap pekan. Dan ditambah dengan banyaknya intensitas kegiatan belajar yang mereka hadapi, banyak pihak yang khawatir program ini berdampak tidak baik pada diri peserta didik.

Durasi berada di sekolah yang terlalu panjang, dikhawatirkan bisa menimbulkan tingkat stress yang lebih tinggi bagi peserta didik. Karena itu, bagi para siswa haruslah cerdas dalam mengatur waktunya semaksimal mungkin agar semua kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Dan juga yang tidak kalah penting bagi para siswa untuk senantiasa menjaga kesehatan.

Tapi solusinya tidak bisa diharapkan dari sisi siswa saja. Mengingat semua fenomena di atas, jika pemerintah benar-benar ingin tetap melanjutkan program full day school, diharapkan agar mau meninjau ulang silabus program dan juga membantu para siswa untuk menunjang kegiatan mereka.

Misalnya, melengkapi fasilitas-fasilitas serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah, khususnya sekolah yang ada di desa-desa, daerah terpencil, dan di daerah perbatasan. Itu semua agar para siswa tetap merasa nyaman belajar dengan keadaan kondusif. Juga bisa membuat para siswa tetap fokus belajar dan merasa tidak membosankan.

Penulis, peneliti Fresh/Civitas Akademika PGSD FIP Universitas Negeri Padang (UNP).

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.