Suasana halaman SD 6 Panjer yang terendam banjir. Akibat kejadian ini, siswa pun belajar di rumah. (BP/ara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejumlah wilayah di Denpasar terendam banjir pasca hujan lebat, Kamis (15/11) dini hari. Sedikitnya ada  tiga sekolah dasar di Denpasar Selatan terpaksa memulangkan siswanya. Karena air sampai tergenang di ruang kelas.

Pantauan di lapangan, banjir terparah terlihat di Jalan Tukad Melangit, Tukad Languan, Tukad Irawadi, serta beberapa lokasi di Jalan Watuenggog, Panjer. Ketinggian air bervariasi dan di bebarapa titik sampai lutut orang dewasa. Salah seorang warga Panjer, Nyoman Darsa mengakui hujan yang lebat menyebabkan air tergenang cukup tinggi. Beberapa rumah warga sempat terendam.

“Saat baru bangun, air sudah masuk ke garase rumah saya. Beruntung, airnya segera surut. Ya sekitar pukul 08.00 air sudah surut,” ujar anggotaDPRD Denpasar ini.

Selain merendam rumah dan jalan, banjir juga merendam sekolah. Di Denpasar Selatan terdata tujuh sekolah dasar terendam banjir. Dari tujuh sekolah, tiga di antaranya harus memulangkan siswanya, karena air masuk ruang kelas.

Menurut Plt.Kepala UPT Diknas Densel Karmianingsih, banjir merendam tujuh sekolah. Beberapa sekolah masih bisa melakukan kegiatan belajarnya. Tiga sekolah, yakni SD 6 Panjer, SD 13 dan SD 18 Sesetan terpaksa siswanya belajar di rumah. “Airnya
mau ikut belajar pak,” ujarnya.

Sementara itu, Winten, guru di SD 6 Panjer mengakui sekolahnya menjadi langganan banjir. Ketinggian air sempat mencapai satu meter, sehingga bangku ikut terendam. Winten mengatakan, bencana banjir mulai ketika terjadi penyempitan saluran air yang berada di sebelah timur sekolah. Belum lagi, di pojok sekolah yang memiliki 475 siswa ini,  terdapat persimpagan saluran air yang cukup kecil. “Ketika luberan airnya cukup
banyak dari arah timur, saluran yang ke selatan kecil, sehingga air masuk ke halaman sekolah,” ujarnya.

Di sisi lain, data dari BPBD Denpasar menyebutkan bencana yang terjadi sudah dapat ditangani. Seperti pohon tumbang dengan diameter 50 cm di Jl. Raya Puputan, Renon, sudah ditangani petugas BPBD dan dibersihkan tim dari DLHK. Demikian pula banjir di Perum Padang Indah Permai, Padang Sambian dengan ketinggian air mencapai sebetis orang dewasa, sudah di tanggulangi BPBD.

Baca juga:  Mendesak, Penanganan Banjir di Jalan Dewi Kunti II Seminyak

Selain itu, banjir di SD 10 Dauh Puri Kauh, SD 11 Padangsambian Klod, dan SD 13, SD 14, SD 12 Dauh Puri Kauh juga dilakukan penanganan dengan penyedotan. “Penanganan banjir di sekolah ini sering kali harus dibantu dengan mesin untuk mengurangi airnya,” ujar Kepala Pelaksana

BPBD Denpasar Drs.I.B. Joni Ariwibawa, M.Si. Dikatakan, banjir juga terjadi di rumah warga Jl Hayan Wuruk 173 Dentim. Untuk penanganan semua bencana, pihaknya menerjunkan puluhan personil yang regu piket malam di  4 Pos  ditambah petugas PSC, Pusdalops yang totalnya mencapai 35 orag.  Sedangkan regu pagi
yang diterjunkan sebanyak 30 orang.

Di konfirmasi terpisah, Kabid Sumber Daya Air DPUPR Kota Denpasar, I
Gusti Ngurah Putra Sanjaya mengatakan, semenjak ada sodetan yang di
buat P2LP Werdhapura dari Tukad Jo Gading menuju Jalan Tukad Sangiang
terus ke Tukad Rangda berdampak pada wilayah Jalan Tukad Irawadi dan
Jalan Tukad Melangit menjadi  rawan banjir saat hujan. Karena hulu
Tukad Rangda yang notabene ada penyempitan menerima tiga limpahan
pembuangan, yaitu dari saluran pembuang Jalan Tukad Irawadi, saluran
pembuang Jalan Tukad Melangit dan saluran pembuang/sodetan Jalan Jo
Gading-Jalan Pakerisan- Jalan Tukad Sangiang menuju Tukad Rangda.

Pada saat terjadi hujan, air di saluran pembuang Jalan Tukad Irawadi
dan saluran pembuang Jalan Tukad  Melangit tidak bisa lancer karena
tekanan air pembuang dari sodetan Jalan Pakerisan menuju Tukad Rangda.
Kondisi ini mengakibatkan volume air yang ada di kedua saluran
pembuang tersebut meluap ke jalan dan lingkungan sekitarnya. Tujuan
adanya sodetan di Jalan Pakerisan- Jalan Tukad Sangiang menuju Tukad
Rangda untuk mengurangi banjir yang sering terjadi  sepanjang  Jalan Tukad Pakerisan dan Jalan Dewata.

Dikatakan, program jangka pendek  berupa penggelontoran dan itupun
tidak terlalu signifikan bisa mengatasi genangan yang terjadi di
kawasan Jalan Irawadi dan Jalan Tukad Melangit. Program yang ideal
disana kalau bisa ada pembebasan permukiman di sepanjang hulu Tukad
Rangda untuk memperlebar saluran.  (asmara/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.