Petani di Buleleng mulai diajarkan membudidayakan talas kuning. Komuditas ini terancam punah karena tidak banyak petani yang tertarik menanam. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Budi daya Talas Kuning sejak lama banyak digeluti petani di Buleleng. Hanya saja, budi daya tanaman ini terancam punah karena tidak banyak petani yang tertarik menanamnya. Alasannya, komoditas ini dianggap tidak menguntungkan, sehingga menyurutkan semangat petani untuk menanam.

Tidak ingin budi daya tanaman lokal Buleleng ini punah, Dinas Pertanian (Distan) Buleleng mengajak untuk melestarikan talas kuning. Mengawalinya, Distan melakukan uji coba melalui Demontration Plot (Demplot) talas kuning. Media ini dibuka di Subak Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada.

Demplot talas kuning ini dikembangkan di lahan seluas 1 hektar. Setelah ditanam beberapa bulan, talas kuning tersebut sudah memasuki masa panen. Dari lahan 1 hektar, mampu menghasilkan 20 kwintal ubi talas kuning siap jual.

Dengan hasil ujicoba itu, Talas kuning potensial dibudidayakan dan ukuran ubi-nya tergolong besar. Selain itu, komuditas ini mengandung protein tinggi serta warna serat kuning menjadi keunikan talas kuning yang hanya ada di Buleleng.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng Nyoman Genep Kamis (8/11) menjelaskan, demplot ini dilakukan untuk merangsang minat petani untuk membudidayakan talas kuning. Petani bisa mempelajari tehnik budi daya dan membuktikan hasil panen dan pemasaran dari komoditas talas kuning.

Dari pemantauan di pasaran, harga jual talas kuning ini sangat bagus di pasaran yakni mencapai Rp 10.000 tiap satu kilogram. “Dari uji coba kita lakukan sangat baik dan harga jual di pasaran bagus dan ukurann cukup besar,” katanya.

Baca juga:  Petani Enggan Gunakan Benih Yang Tahan Virus Mosaik

Menurut birokrat asal Dusun Kelod Kauh Desa Panji, Kecamatan Sukasada ini, talas kuning mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Ubi dan daunnya cocok diolah menjadi bahan makanan dan obat. Bahkan, daunnya dan dan kulit ubi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah diolah dengan tehnik fermentasi.

Selain itu, talas kuning dapat ditanam di lahan yang agak berair sampai lahan kering. Dengan demikian, talas ini diyakini sangat cocok dengan kontur tanah di Bali Utara. “Selain untuk olahan pangan non beras limbahnya bisa untuk pakan ternak. Tanaman ini juga cocok di lahan kring, sehingga potensial kita budidayakan di daerah,” jelasnya.

Nyoman Genap menambahkan, demplot ini akan terus dilaksanakan untuk menarik minat petani bisa membudidayakan tanaman ini untuk menambah penghasilan keluarga. Ke depan pihaknya akan menyiapkan bibit yang disumbangkan kepada masyarakat. Upaya ini terus digenjot karena selama ini petani hampir tidak ada yang mau menanam talas. Tak heran, kalau budidaya talas nyaris punah, sehingga upaya ini dilaukan untuk melestarikan varietas tanaman lokal. (mudiarta/balipost)

 

 

1 KOMENTAR

  1. sangat menginspirasi. mudah-mudahan ini menjadi komuditas lokal singaraja.

    Disini sangat diharapkan peran serta pemerintah dan swasta untuk menampung hasil produksi petani sehingga petani tidak risau dalam melakukan produksi.

    jika petani hanya menjual ke tengkulak, maka petani akan dirugikan

    mudah-mudahan ada pabrik yang tertarik untuk menampung dan mengolah menjadi makanan khas singaraja

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.