Perumda Pasar MGS Badung mengandeng BUMD Jakarta untuk menyalurkan produksi gabah petani yang surplus.(BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Perumda Pasar Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung memperluas pasar penyerapan gabah petani dengan menggaet Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta, yakni PT Food Station Cipinang Jaya. Kerja sama ini dilakukan untuk menampung surplus produksi beras di Badung sekaligus memperkuat rantai pasok pangan di Bali.

Data produksi menunjukkan sektor pertanian Badung menghasilkan sekitar 57.338 ton beras pada 2025. Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat diperkirakan hanya mencapai 49.441 ton per tahun. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mendorong kolaborasi antar-BUMD agar hasil panen petani tetap terserap dan harga stabil.

Direktur Utama Perumda Pasar MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, menegaskan kerja sama ini bukan untuk mengirim beras ke Jakarta, melainkan mengisi kebutuhan pasar Food Station yang sudah ada di Bali.

Baca juga:  Garap Lahan Hutan, BNI Bantu 1.600 Petani

“Jadi bukan Badung mengirim beras ke Jakarta, jadi kebetulan food station punya market ada di Bali, kita mengisi marketnya itu. Jadi konteksnya, sementara market yang ada di Bali yang hampir sekitar Rp 1 miliar per bulan kita yang isi,” katanya.

Menurutnya, potensi produksi dari Rice Milling Unit (RMU) di Badung cukup besar. Jika beroperasi optimal, kapasitas produksi bisa mencapai ratusan ton per bulan. “Kalau kami hitung, secara kasar, mungkin kalau beroperasi full, optimal 24 jam, itu kemungkinan bisa sampai 600 ton per bulan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tahap awal penyerapan ditargetkan sekitar 500 ton per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan pasokan gabah sekitar 1.000 ton per bulan dari petani Badung dan wilayah sekitarnya. “Sementara mencukupi, karena sementara kita mau coba 500 ton per bulan, kebutuhannya 1000 ton gabah per bulan, itu kondisi memang surplus,” ucapnya.

Baca juga:  Kembangkan Padi Organik, Ini Dilakukan Kodim Badung

Kolaborasi ini juga diharapkan mendorong hilirisasi pangan dari hulu hingga distribusi. Perumda MGS tidak hanya fokus pada beras, tetapi juga membuka peluang kerja sama komoditas lain seperti minyak, gula, dan produk pangan strategis lainnya.

Sementara itu, Dirut PT Food Station Cipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, melihat Bali sebagai pasar potensial karena kebutuhan beras masih tinggi. Selama ini pasokan sebagian masih dipenuhi dari luar daerah. “Saat ini kan kita ada penjualan senilai kurang lebih 1 sampai 2 miliar per bulan itu bukan hanya beras tapi juga ada gula juga,” ujarnya.

Baca juga:  BI Tegaskan Tidak Akan Cetak Uang Baru

Ia menambahkan, berdasarkan data kebutuhan pangan, Bali masih mengalami kekurangan pasokan beras. “Kalau dari kebutuhan saya baca di BPS itu kan 500 ribu ton per tahun ya di Bali. Nah selama ini kan disuplai dari daerah luar dari Jawa Timur kemudian NTB,” katanya.

Kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan penjualan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Food Station juga melihat Badung sebagai lokasi strategis karena memiliki pasar besar dari sektor hotel, restoran, dan katering.

“Kenapa memilih Badung, karena Badung ini kan marketnya memang besar kemudian hotel banyak di sini,” ucapnya.

Ke depan, pihaknya berharap kolaborasi antar-BUMD ini mampu menjaga stabilitas harga gabah, memperluas penyerapan hasil panen petani, serta memastikan kebutuhan pangan Bali tetap terpenuhi secara berkelanjutan.(Parwata/balipost)

BAGIKAN