Para petani Desa Kedisan memanfaatkan burung hantu jenis Tyto Alba sebagai predator alami untuk mengatasi ancaman hama tikus di area persawahan. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Upaya mewujudkan pertanian organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan kini diterapkan di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Para petani setempat memanfaatkan burung hantu jenis Tyto Alba sebagai agen pengendali hayati (predator alami) untuk mengatasai ancaman hama tikus di area persawahan.

Ketua Kelompok Tani Desa Kedisan, I Putu Yoga Wibawa, Jumat (31/7) menyampaikan Rubuha dan burung hantu Tyto Alba menjadi solusi dalam mengurangi ketergantungan pada racun maupun bahan kimia berbahaya.

Baca juga:  Dari Bayi Baru Lahir Ditemukan di Lahan Kosong hingga Kantor Gubernur Jatim Digeledah

Yoga juga berharap langkah yang diambil Desa Kedisan dapat menginspirasi desa-desa lain di Kabupaten Gianyar untuk menerapkan praktik pertanian berwawasan lingkungan. Pemanfaatan Tyto Alba sebagai predator alami merupakan alternatif efisien yang ramah lingkungan dibanding penggunaan racun kimia.

Metode biological control ini terbukti efektif menekan populasi hama tikus tanpa mengganggu organisme non-target, merusak kesuburan tanah, ataupun mencemari hasil panen, sehingga beras yang dihasilkan lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi. (Wirnaya/balipost)

Baca juga:  Produksi Kopi Robusta Pupuan Turun 50 Persen
BAGIKAN