
SINGARAJA, BALIPOST.com – Perumda Swatantra Buleleng mulai menyiapkan langkah ekspansi bisnis dengan mengembangkan industri terpadu dan pasar hewan Bali Utara. Saat ini, perusahaan daerah tersebut tengah menyusun feasibility study (FS) atau studi kelayakan sebelum proyek senilai Rp22,4 miliar itu diajukan kepada Kuasa Pemilik Modal (KPM).
Direktur Utama Perumda Swatantra, I Gede Bobi Suryanto, Jumat (24/7), mengatakan pengembangan usaha ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Menurutnya, jika hanya mengandalkan tiga core business yang selama ini dijalankan, potensi peningkatan pendapatan belum maksimal.
“Masih kita susun feasibility study terkait industri dan pasar hewan Bali Utara. Setelah FS selesai dan dinyatakan layak, baru kita ajukan kepada KPM. Harapannya, ini bisa meningkatkan pendapatan Perumda Swatantra secara lebih signifikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep yang dikembangkan bukan sekadar pasar hewan, melainkan kawasan industri terpadu yang mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan. Kawasan tersebut akan dilengkapi industri pengolahan jagung, kopi, gabah melalui pembangunan Rice Milling Unit (RMU), peternakan sapi dan babi, hingga industri pupuk organik.
“Semuanya akan disinergikan sehingga saling mendukung. Hasil pertanian diolah, peternakan berkembang, limbahnya dimanfaatkan menjadi pupuk organik,” jelasnya.
Dalam sektor peternakan, Perumda Swatantra akan membeli sapi hidup dengan bobot di atas 300 kilogram untuk dipasarkan ke luar daerah. Sementara kebutuhan daging di Kabupaten Buleleng akan diprioritaskan terlebih dahulu melalui kerja sama dengan rumah potong hewan (RPH) yang telah ada.
“Kebutuhan di dalam daerah harus dipenuhi lebih dulu. Kalau ada kelebihan, baru dipasarkan ke luar. Untuk itu kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta KPM,” katanya.
Dari rancangan awal, proyek pengembangan industri terpadu dan pasar hewan ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp22,4 miliar. Strategi pembiayaan baru akan disusun setelah dokumen FS rampung. “Kebutuhan dananya sekitar Rp22,4 miliar secara keseluruhan. Setelah FS selesai, baru kita tentukan skema pendanaannya,” imbuhnya.
Perumda Swatantra juga telah menyiapkan lahan seluas 12 hektare di wilayah Gerokgak yang akan dikerjasamakan dengan Badan Pengelola Aset Daerah. Namun sebelum pembangunan dimulai, berbagai aspek kelayakan akan dikaji, mulai dari kesesuaian lokasi dengan permukiman, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), sanitasi, hingga dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
“Kita harus memastikan proyek ini layak dari sisi lingkungan, pasar, maupun sosial. Termasuk manfaatnya bagi masyarakat dan kesesuaiannya dengan arah pembangunan daerah dalam RPJMD. Kalau FS sudah selesai dan hasilnya layak, kita akan bergerak cepat,” tegasnya. (Yudha/balipost)










