
TABANAN, BALIPOST.com – Komitmen mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sistem subak, terus ditunjukkan Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih. Memasuki musim tanam pertama Januari 2026, manajemen menyalurkan bantuan pupuk sebanyak 22,8 ton kepada tujuh Tempek Subak di kawasan Jatiluwih, Kecamatan Penebel. Bantuan tersebut diserahkan secara bertahap, mulai Selasa (30/12) hingga Selasa (6/1).
Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Jhon Ketut Purna, menegaskan kebijakan tersebut diambil agar petani memiliki cadangan pupuk yang cukup di awal musim tanam. “Kami ingin memastikan kebutuhan nutrisi tanaman terpenuhi dengan baik. Karena itu, setiap Tempek kami berikan kelebihan 10 kilogram dari hitungan luasan,” ujarnya, Senin (12/1).
Bantuan pupuk ini menyasar total luasan sawah 227,41 hektar yang dikelola petani subak. Dan pada penyaluran kali ini manajemen DTW Jatiluwih juga memberikan tambahan 10 kilogram pupuk di luar perhitungan standar luasan lahan sebagai bentuk apresiasi kepada petani yang selama ini menjaga kelestarian sawah warisan dunia.
Dengan kebijakan tersebut, total pupuk yang disalurkan mencapai 22,811 ton, didistribusikan secara proporsional dan transparan berdasarkan luas lahan masing-masing Tempek dengan acuan 1 kilogram per are. Rinciannya, Subak Gunung Sari menerima 4,859 ton, Subak Kedamaian 2,216 ton, Subak Besikalung 3,763 ton, Subak Kesambi 1,396 ton, Subak Umakayu 2,204 ton, Subak Telabah Gede 6,51 ton, serta Subak Umaduwi 1,863 ton. Seluruh perwakilan Tempek hadir langsung menerima bantuan tersebut.
Jhon Ketut Purna menambahkan, dukungan ini merupakan bagian dari sinergi pariwisata dan pertanian di kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO. Keberadaan DTW Jatiluwih, menurutnya, tidak terlepas dari peran petani yang konsisten menjaga sistem subak secara alami dan tradisional. “Pariwisata di Jatiluwih ada karena petani tetap merawat sawah sebagai warisan leluhur. Sudah menjadi kewajiban kami mendukung sarana produksi mereka, terutama pupuk di awal musim tanam,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan, sebelumnya bantuan dari manajemen DTW Jatiluwih diberikan dalam bentuk uang tunai kepada pekaseh untuk pembelian pupuk. Namun, sejak akhir 2025 manajemen mengambil kebijakan baru dengan menyalurkan pupuk secara langsung kepada petani guna memastikan ketepatan jumlah dan waktu distribusi.
Terkait bantuan ini sejumlah petani tentunya menyambut positif kebijakan tersebut, terlebih dengan adanya tambahan pupuk yang dinilai sangat membantu di tengah fluktuasi harga sarana produksi pertanian. Diharapkan dukungan, petani Jatiluwih mampu menjaga produktivitas beras merah khasnya sekaligus mempertahankan peran strategis sebagai lumbung pangan dan destinasi wisata hijau unggulan di Bali. (Puspawati/balipost)










