Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjadi pembicara dalam diskusi FMB9 yang bertema "Capaian Indonesia dalam IMF-WB Annual Meeting" di sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018, Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10). (BP/ant)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Dampak ekonomi Bali dari pertemuan tahunan IMF-WB 2018 ini dipastikan positif. Bahkan diperkirakan Bali akan mendapatkan tambahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. Perkiraannya tambahan PDRB Bali akan mencapai Rp 1,2 triliun.

Manfaatnya bagi ekonomi Bali dengan asumsi penerimaan peserta 19.000 orang, ekonomi Bali akan tumbuh 6,54 persen. Namun berdasarkan data terakhir, total peserta yang datang adalah 36.619 orang.

Jika benar peserta yang hadir 36.619 orang, ekonomi Bali diperkirakan akan tumbuh lebih dari 6,54 persen. Selain itu ada 32.700 lapangan kerja yang terbentuk dan akibat dari perluasan apron Bandara adalah bisa menambah kedatangan wisatawan 1,2 juta penumpang.

Okupansi rate hotel juga meningkat dari  60 -70 persen menjadi dari 70 – 80 persen. “Jadi satu hal yang luar biasa, salah satu strategi menanggulangi count defisit kita adalah peningkatan pariwisata,” ungkap Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan Press Briefing Sabtu (13/10).

Ia mengatakan sebanyak 3.000 delegasi mendaftar untuk pergi ke berbagai tempat destinasi wisata yaitu ke Bali, Lombok, Mandalika, Gili Trawangan, Labuan Bajo, Komodo, dan Danau Toba. Ada beberapa ratus miliar yang bisa didapat dari kunjungan turis tersebut.

Para tamu negara ini juga kagum karena Indonesia bisa memanage ketika ada bencana di Lombok, Palu, Asian Games, Asian Paragames dan sekarang IMF WB. “Jadi istilah mereka begini, bandwidth kalian betul-betul hebat. Bagaimana negara sebesar Indonesia ini bisa mengatur dengan baik,” ungkap Luhut menirukan kesan yang diterimanya dari delegasi.

Baca juga:  Akibat Gempa Lombok, 82 Orang Meninggal Dunia

Ia juga optimis dengan kesuksesan IMF WB ini, confident investor akan makin baik.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, sebuah kehormatan bagi Bali menjadi tempat pertemuan Annual Meeting IMF WB 2018. Manfaat jangka pendek, Bali dibantu dengan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah pusat. Yaitu underpass Ngurah Rai untuk memecahkan masalah kemacetan ke Nusa Dua. Infrastruktur ini selesai dengan anggarap Rp 174 miliar.

Pengembangan Bandara Ngurah Rai dengan perluasan parkir. Sehingga sirkulasi pesawat bisa lebih cepat. Penanganan sampah di TPA Suwung yang bertahun-tahun tidak selesai kini bisa terselesaikan dengan anggaran Rp 250 miliar.

Citra pariwisata di Bali akan tumbuh makin kuat. “Meski citra Bali sudah kuat tapi harus tetap dibangun karena Bali berkompetisi dengan negara lain,” ujarnya.

Lapangan kerja bertambah banyak sampai 32.000, PDRB diyakini meningkat di atas Rp 1,2 triliun tahun ini. Pertumbuhan ekonomi Bali tanpa ada IMF-WB sekitar 5,9 persen pada 2018. Dengan adanya IMF, ia meyakini pertumbuhan ekonomi Bali di atas 6,5 persen. “Ini adalah anugerah buat Bali,” ujarnya.

Sementara manfaat jangka panjang adalah ajang promosi pariwisata Indonesia dan Bali. Dari 189 negara dengan peserta dari luar negeri 14.000 lebih ini akan menjadi juru bicara di negaranya masing–masing tentang Bali dan Indonesia. “Ini buat kami adalah suatu promosi gratis buat Bali. Kalau dengan APBD, ini butuh anggaran yang cukup besar ke 189 negara,” tandasnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.