Ubud
Sejumlah wisatawan tengah belajar mejejaitan di salah satu homestay di Ubud. (BP/dok)

I Kadek Jantuk kini tak perlu bingung-bingung mencari biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dia memiliki homestay di kawasan Sanur, hampir setiap hari ada saja tamu yang menginap di homestay-nya. Ini disebabkan adiknya, I Kalur, menyalurkan semua tamu di travel-nya ke homestay milik sang kakak. Sementara saudara misannya, I Kantong, merangkap guide dan sopir untuk semua tamu pesanan I Kalur.

Tidak itu saja, keluarga ini juga melibatkan sopir dari warga dekatnya sehingga menjadi bisnis keluarga yang saling asah dan asuh. I Kalur juga tak lupa memanfaatkan rumah makan milik warga banjarnya untuk tamu-tamunya. Termasuk memanfaatkan mobil pariwisata rekan-rekannya sedesa. Ketika musim tamu sepi, I Kalur juga sudah memiliki lahan pertanian yang sudah ditanami pisang, jagung, dan sayur-mayur. Dia juga memiliki sumber pendapatan dari usaha dagang yang dikelola istrinya.

Model ekonomi Bali inilah yang paling pas pada era disruption kali ini. Krama Bali tak boleh menguasai usaha dari hulu hingga ke hilir karena akan membuat kita repot dan rugi. Model ekonomi ini tak ada istilah saling menjatuhkan. Bukankah setiap orang mendapat hak sebagian dari usaha kita. Nah, kalau sudah berpikir demikian semuanya akan berjalan damai. Krama Bali harus berstatu menggalang kekuatan, bukan dengan cara saling menjatuhkan. Apalagi dibarengi dengan tindakan niskala nonmedis. Kini bukan zamannya kita bertengkar dengan nyama Bali, justru memperkuat networking dengan siapa saja.

Secara teori softskill dan hardskill menentukan kesuksesan orang. Krama Bali dalam memajukan ekonomi Bali wajib memenuhi standar ini. Dari kemampuan berkomunikasi, dialogis, nego, dan membuat orang percaya harus ditanamkan jika kita tak mau menjadi penonton di rumah sendiri. Coba bayangkan jika masyarakat Bali bisa bersatu dalam segala hal, makin kuat pelaksanaan Tri Hita Karana-nya. Kata para sulinggih, jika krama Bali sukses pasti mereka akan ber-yadnya dan berupacara. Dan semua pelaksanaan ritual ini mengimbas ke warga lainnya.

Baca juga:  Kunjungan Wisata Rafting di Karangasem Turun 50 Persen

Kedua, paradigma orang Bali juga perlu diubah. Saat ini, pariwisata sering kali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di Bali. Melihat tren positif dari pertumbuhan pariwisata global, optimisasi pembangunan sektor agraris dan industri perlu kita lirik. Jangan lupa juga menggarap sektor informal di Bali.

Terus terang secara umum jiwa berbisnis krama Bali masih kalah jauh. Lihat saja suasana Bali setelah pukul 17.00 wita, semua dikuasai warga luar Bali. Padahal orang Bali yang memiliki lahan dan toko hanya untuk disewakan. Untuk menggarap ekonomi Bali, diperlukan kehadiran peran serta pemerintah daerah. Pelibatan stakeholder dalam perumusan strategi pengembangan ekonomi Bali yang berkelanjutan dan kebijakan mungkin menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Sebuah keharusan mengakomodasi seluruh masukan atau pendapat dari berbagai kelompok pemangku kepentingan dalam hal identifikasi masalah, legitimasi, keterlibatan dan resolusi konflik. Yang paling tepat ekonomi Bali harus digarap secara komprehensif. Integritas dan kelangsungan produk pariwisata harus membuat efek ganda bagi dunia industri kecil dan pertanian. Makanya sekecil apa pun peluang itu harus diisi bersama-sama warga Bali. Membangun Bali secara komprehensif dan bersinergis ini tujuan akhirnya adalah mengimplementasikan Tri Hita Karana secara berkelanjutan.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.