Beras Ungu yang ditemukan di wilayah Subak Desa Angkah. (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Selain beras merah dan beras hitam yang sudah jelas latar belakang  dan kandungannya, Tabanan akan memiliki beras jenis baru yaitu beras ungu. Beras ini pertamakali ditemukan di lahan pertanian yang berada di wilayah Desa Angkah Selemadeg Barat dan kemudian dikembangkan secara personal oleh petani setempat.

Bumdes Angkah kemudian mencoba untuk menawarkan ke Bumda dalam hal ini PDDS Tabanan untuk menjadi salah satu produk pertanian unggulan yang bisa dijual. Karena silsilah beras ungu ini belum jelas, pihak Bumda Tabanan meminta Bumdes Angkah untuk menelusiri silsilah beras ungu ini. Dari tekstrur rasa sendiri, beras ungu hampir mirip dengan beras hitam hanya lebih wangi.

Direktur PDDS Tabanan, I Putu Sugi Darmawan Kamis (13/9) memaparkan, pengembangan beras ungu ini masih terbatas dan dikembangkan secara personal oleh petani di subak Angkah.

‘’Beberapa waktu lalu beras ungu ini diberikan sampelnya oleh Bumdes Angkah. Sudah coba ditanak dan rasanya hampir sama dengan beras hitam. Hanya lebih wangi beras ungu,’’ ujarnya.

Baca juga:  Berlaku 1 September, Aturan HET Beras Belum Tersosialisasi Baik

Namun sebelum meluncurkan beras ungu ini ke pasaran, tentu banyak proses yang harus dilalui. Salah satunya adalah mendaftarkan beras ungu ke Badan Benih dan melakukan uji lab untuk kandungannya.

Sebagai langkah awal, pihak PDDS Tabanan meminta Bumdes Angkah untuk melakukan penelusuran silsilah dan sejarah beras ungu. ‘’Karena beras ungu ini hanya didapati di subak wilayah Desa Angkah. Jadi diminta untuk menelusuri silsilahnya dan sejarahnya  terlebih dahulu,’’ ujar Sugi.

Langkah lainnya adalah melakukan penanaman demplot beras ungu di subak Angkah seluas satu hektar yang mana pembiayaannya dari PDDS Tabanan. ‘’Untuk penanaman demplot ini kami masih rembuk dulu dengan pekaseh yang ada di sana. Jika disetujui maka diuji coba seluas satu hektar,’’ papar Sugi.

Dalam penanaman demplot nanti, penamanan beras ungu ini juga sekaligus diberlakukan dengan menggunakan pupuk organik Jamu Maja Tani. Hasilnya nanti akan dilakukan uji lab sekaligus usulan ke badan benih nasional.  (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.