hamil
Ilustrasi. (BP/dok)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Penemuan kasus HIV dan AIDS di Badung semakin menjadi-jadi. Bahkan, jumlah kasus pengidap penyakit mematikan ini mencapai sebanyak 2.902 kasus.

Mirisnya, 90,5 persen kasus ditemukan pada usia 20-49 tahun, yang merupakan usia produktif. Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Badung, Ketut Suiasa, mengatakan kasus HIV tercatat mencapai 1.738 kasus, AIDS 1.164 kasus. Dari kasus tersebut sebanyak 2.440 orang terjadi pada usia 20-49 tahun. “Itu berarti jika sejak terinfeksi sampai masuk ke kondisi AIDS lamanya 5 tahun, maka usia terendah saat terinfeksi sekitar 15-24 tahun,” ujar Ketut Suiasa.

Wakil Bupati Badung itu juga mengatakan, jalur penularan terbesar pada usia muda adalah dari hubungan seksual dan penyalahgunaan napza. Ini tidak terlepas dari kurangnya pengetahuan yang komprehensif tentang HIV dan AIDS baru yang baru mencapai 21,3 persen. “Hasil ini perlu mendapat perhatian khusus, bagaimana kaum muda dapat mencegah penularan HIV-AIDS,” terangnya.

Menurutnya, keberadaan mahasiswa perduli AIDS harus terus ditingkatkan eksistensinya. Selain itu juga harus didukung oleh semua pihak, agar program mahasiswa perduli AIDS di perguruan tinggi dapat terus ditingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitas.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah setempat telah mengambil langkah cepat dengan gencar menyosialisasikan Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang dapat diakses di seluruh puskesmas, termasuk mengakses pengobatan antiretroviral (arv).

Baca juga:  Puluhan Pelajar di Buleleng Berstatus ODHA

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Badung dr. Gede Putra Suteja, mengatakan selain VCT di seluruh Puskesmas, termasuk mengakses pengobatan secara antiretroviral (arv), pihaknya juga menyediakan tenaga di masing-masing desa. Layanan VCT dapat dilakukan di Puskesmas Kuta I, Kuta II, Puskesmas Abiansemal I, Mengwi I , Kuta Selatan. “Sudah hampir bisa di seluruh puskesmas di Badung (VCT dan arv –red), dan di RSUD Mangusada juga,” ujarnya.

Upaya tersebut, kata dr. Putra Suteja mendekatkan layanan dengan ODHA, yaitu dengan membentuk puskesmas satelit arv. Sehingga pengobatan arv bisa dilakukan di puskesmas terdekat dengan tempat tinggal Odha. (Parwata/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.