Prosesi Ida Batara tedun dari bale pedanan usai prosesi mapeselang dan mapedanan serangkaian upacara pada puncak Karya Mamungkah, Tawur Labuh Gentuh, Pedanan lan Ngenteg Linggih di Pura Puseh-Bale Agung Desa Pakraman Kusamba (BP/kmb)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Puncak Karya Agung Mamungkah, Tawur Labuh Gentuh, Pedanan lan Ngenteg Linggih di Pura Puseh-Bale Agung Desa Pakraman Kusamba bertepatan dengan pujawali pada Buda Wage Ukir, Rabu (4/4) berlangsung khidmat. Upacara yang di-puput enam sulinggih itu diiringi upacara pawintenan 12 krama.

Dari enam sulinggih yang muput, tiga orang muput di ayun, yakni yaitu Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Gria Aan, Klungkung yang juga yajamana karya, Ida Pedanda Gde Telaga Putra Keniten dari Gria Tubuh Ersania Dawan Kaler, Ida Pedanda Gde Purwa Gautama dari Gria Wanasari; dua sulinggih muput di bale paselang, yakni Ida Pedanda Gde Karang Putra Keniten dari Gria Satria Kanginan dan Ida Pedanda Ketut Jelantik Sogata dari Gria Wanasari; seorang sulinggih muput di Bale Agung, yakni Ida Pedanda Gde Putra Kediri dari Gria Dawan Kaler.

Upacara dimulai dengan ritual pangebek dan penganteg. Setelah itu, Ida Batara tedun ka paselang. Krama yang mawinten turut mundut Ida Batara matiti mamah. Di paselang juga dilangsungkan prosesi majejiwan oleh Ida Pedanda Gde Putra Tembau berupa pembacaan teks suci tentang pembentukan dunia.

Usai upacara di bale paselang, prosesi dilanjutkan dengan mapedanan. Saat itu, Ida Batara tedun ke bale paselang dan menyaksikan prosesi mapadanan. Prosesi ini ditandai dengan menebarkan uang dan berbagai benda perlengkapan dapur dan rumah tangga kepada krama. Ini sebagai simbol Ida Batara suecamemberikan anugerah kepada krama.

Baca juga:  Monev Produksi Garam, Pemkab Pastikan Pemanfaatan Peralatan

Setelah upacara mapadanan berakhir, prosesi dilanjutkan dengan mendem Ratu Bagus di mandala utama Pura Puseh. Ritual ini menandai berakhirnya rangkaian upacara puncak karya.

Ketua Panitia Karya, I Nengah Sumarnaya menjelaskan setelah berakhirnya puncak karya, berikutnya akan dilanjutkan dengan ngaturang panganyar mulai 5 April 2018 hingga 14 April 2018. Ida Batara bakal masineb pada 15 April 2018.

“Selama Ida Batara nyejer, krama dipersilakan ngaturang bhakti,” kata Sumarnaya.

Bendesa Desa Pakraman Kusamba, AA Raka Swastika menambahkan inti makna Karya Agung Mamungkah sejatinya menciptakan “dunia baru” secara simbolik. Implementasinya kini tergantung kepada krama desa untuk memaknainya dengan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam tataran diri pribadi, keluarga, dan desa pakraman.

Secara khusus, Sumarnaya dan Raka Swastika mengapresiasi besarnya dukungan krama dan berbagai pihak terkait dalam mensukseskan karya. Dukungankrama meliputi urunan, ayah-ayahan hingga punia. Begitu juga punia dari berbagai pihak terkait, termasuk punia Rp 5,7 juta dari Pjs. Bupati Klungkung melalui Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Setkab Klungkung, punia Rp 10 juta dari Gubernur Bali melalui Kepala Biro Kesra Setprov Bali.

“Atas segala dukungan, ayah-ayahan dan punia krama dan berbagai pihak itu, kami sampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus,” tandas Sumarnaya dan Raka Swastika. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.