Jalan putus. (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Aktivitas Gunung Agung mulai nampak tenang. Banjir lahar dingin yang dulu mengerikan juga tak terjadi lagi. Tetapi, dampak dari itu semua sangat mengerikan. Salah satunya, akses jalan di Desa Adat Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, terputus. Warga jadi kesulitan untuk sekadar pulang menengok rumah. Demikian juga bagi pamedek yang hendak tangkil ke Pura Tunggul Besi, juga tidak bisa lewat, karena jalannya terputus.

I Kadek Swastika, salah satu warga setempat ketika ditemui saat hendak melintasi jalan putus tersebut, Rabu (28/3), mengatakan akses jalan itu terputus ketika terjadi terjangan banjir lahar hujan yang cukup besar beberapa waktu lalu.Terjangan banjir lahar hujan  berulangkali terjadi saat bencana erupsi Gunung Agung. Putusnya akses jalan tersebut, membuat warga khawatir. Jika nantinya terjadi bencana erupsi Gunung Agung lagi, pergerakan warga untuk menyelamatkan diri akan lama. Itu juga lantaran sepanjang akses jalan tersebut banyak yang jebol dan ada juga yang tertimbun longsoran dan saat ini sama sekali belum ditangani pemerintah.

Ujung jalan dari putusnya jalan tersebut, juga langsung mengarah ke jurang yang terbentuk akibat gerusan dahsyatnya terjangan banjir. Saat ini, gerusan tersebut menyisakan lubang menganga yang sangat membahayakan bagi warga setempat. Utamanya pengendara sepeda motor yang berasal dari luar desa yang tidak mengetahui medan. “Jika tidak waspada, motor bisa  terjun bebas ke badan jalan yang kini berubah menjadi jurang dengan dasar bebatuan sungai se dalam lebih dari enam meter, mengingat posisi putusnya jalan tersebut tepat di tikungan tajam dan pada jalan turunan curam seperti ini,” kata Swastika.

Baca juga:  Bupati PAS Instruksikan Bentuk Tim Pembebasan Lahan Shortcut

Selain sebagai akses jalan warga menuju pondok mereka di bukit lereng atas Gunung Agung, jalan yang putus itu merupakan satu-satunya jalur menuju Pura Tunggul Besi. Pura ini ada di lereng atas Gunung Agung. Artinya, saat ini pamedek yang hendak tangkil atau bersembahyang ke Pura Tunggul Besi tidak bisa menuju ke sana. Kecuali pemedek itu nekat menuruni ujung jalan yang putus ke dasar sungai, lalu naik keterusan jalan tersebut hingga ke Pura Tunggul Besi sejauh 1,5 kilometer.

Terjangan banjir lahar hujan tersebut tidak hanya memutus satu-satunya akses jalan. Namun juga sanggup membuat batu sebesar mobil truk terguling hingga jauh ke hilir. “Waktu itu banjirnya besar sekali, dan jalan aspal ini putus dan hanyut digerus banjir. Dulunya sungainya tidak dalam seperti ini tapi sekarang sampai dasar sungai sangat dalam dan dipenuhi dengan batu besar,” ujar Kadek Swastika.

Warga lainnya, Wayan Suradnya menambahkan saat ini warga setempat juga masih trauma. Karena saat sore hari, warga masih sering mendengar suara gemuruh dari Gunung Agung. Termasuk getaran-getaran yang kadang terjadi di sekitar lereng Gunung Agung. “Jelas warga disini masih ketakutan dan khawatir, apalagi dengan kondisi jalan seperti ini,” keluh Suradnya.

Saat ini sebagian besar warga Desa Temukus masih ada di pengungsian. Mereka enggan pulang, melihat dan merasakan aktivitas Gunung Agung seperti itu. Namun tidak sedikit pula yang memilih pulang saat siang hari, untuk sekadar menengok rumah. Warga setempat berharap, akses jalan itu bisa segera diperbaiki, untuk memperlancar jalur warga pulang dan pergi ke Desa Adat Temukus. (bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.