DENPASAR, BALIPOST.com – Pengembangan ekonomi kreatif sejatinya bukan alternatif baru. Sebab, masyarakat Bali juga pernah eksis menekuni sektor itu di Pulau Dewata. Sebut saja masa-masa kejayaan yang pernah direngkuh para perajin perak di Celuk, Sukawati, Gianyar.

Kini, pemerintah memiliki peran besar untuk mengembalikan kejayaan itu demi keberlangsungan sumber ekonomi Bali ke depan. “Saya rasa semuanya kembali kepada pemerintahan sendiri. Kalau misalnya kan dulu Celuk dikenal dengan kerajinan peraknya. Terus kenapa sekarang tergerus, karena Bali dulu display, daerah pasar lah. Banyak perak itu diambil dari jawa, di Jogja khususnya,” ujar Anggota Komisi II DPRD Bali, Tjok Gede Asmara Putra Sukawati dikonfirmasi, Jumat (23/3).

Menurut Tjok Asmara, produsen yang ada di luar Bali lantas membuka pula usaha di Bali dengan harga yang tentu saja lebih murah. Akibatnya, produsen lokal atau perajin tidak mampu membuat produk dengan kualitas bagus karena persaingan harga itu.

Inilah yang kemudian membuat orang Bali tidak bisa bersaing dan menjadi cikal bakal hancurnya pasar perak di Celuk. Keadaan mereka semakin terpuruk dengan menjamurnya toko oleh-oleh modern.

Oleh karena itu, pemerintah sepatutnya membuat aturan baku mengenai harga jual dan melindungi produsen lokal. “Apabila pemerintah bisa membuat satu kebijakan, pastilah semuanya itu akan kembali lagi. Sekarang kan kerajinan perak yang ada di Celuk banyak berubah menjadi restoran. Begitu juga kerajinan lain seperti patung yang ada di Mas. Jadi sudah berbaur dia, tidak mengkhusus lagi seperti dulu,” imbuh Politisi Demokrat asal Gianyar ini.

Tjok Asmara menambahkan, ciri khas masing-masing daerah seperti Celuk dengan peraknya harus dikembalikan lagi. Yakni dengan melakukan pengelompokan wilayah terhadap produsen.

Misalkan Celuk dipusatkan untuk artshop kerajinan perak saja. Sedangkan untuk usaha lain ijinnya lebih diperketat. Termasuk jika ingin membuka artshop kerajinan perak di luar Celuk.

Baca juga:  Tokoh Masyarakat Banyuning Datangi DPRD Bali

“Dengan demikian, siapapun yang ingin mencari perak, dia harus datang ke Celuk. Seperti monopolilah. Kayaknya jelek, tapi bagus untuk masyarakat lokal sebenarnya,” jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali, I Putu Astawa mengaku tengah bekerjasama dengan Universitas Udayana untuk menyusun kembali rencana induk pengembangan industri di Bali sesuai dengan klasternya. Celuk sendiri merupakan contoh dari penerapan “one village one product” karena sebagian besar masyarakatnya menghasilkan kerajinan perak.

“Tetapi nampaknya sekarang sejalan dengan perkembangan ini, terjadi persaingan dengan daerah-daerah penghasil perak lainnya. Mungkin ada kejenuhan pasar, memang kalah bersaing dengan yang lebih bagus atau yang lebih murah. Inti persoalannya di kreativitas, baik di dalam marketingnya maupun teknik desainnya,” ujarnya.

Astawa mengakui artshop-artshop perak di Celuk sudah banyak beralih fungsi sebagai indikasi kerajinan itu kini tidak lagi menjanjikan dan membuat pasar perak Celuk menjadi lemah. Padahal, klaster industri di Gianyar, khususnya, sudah cukup jelas.

Dikatakan, perlu ada rekomendasi untuk mengembalikan kejayaan itu. Baik dari segi cara memasarkannya di era digital, meningkatkan promosi, maupun mengkaji kebijakan yang berpihak pada masyarakat lokal.

“Salah satu kendala kita kan di bahan baku yang menyebabkan daya saing perak kita kurang bagus karena diimpor. Makanya kita galakkan dengan program KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor). Misalnya kita mengekspor perak, kita memasukkan bahan baku perak dari luar negeri dengan pajak 0 persen. Ini upaya kita juga dalam rangka untuk meningkatkan daya saing harga perak kita,” papar mantan Kepala Bappeda Litbang ini. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.