Kepala KPw BI Bali Causa Iman Karana (kiri). (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pilkada tahun ini tidak membawa dampak signifikan pada tingkat inflasi. Karena skalanya kecil dan adanya pergeseran cara berkampanye.

Justru pada tahun ini, yang menjadi kekhawatiran adalah adanya IMF-WB karena skala besar. “Kalau pilkada ini kecil pengaruhnya terhadap inflasi. Memang ada permintaan (supply) tambahan, tapi dari sisi besarannya kecil. Yang kita waspadai malah IMF-WB,” ungkap Causa Iman Karan, Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan (BI KPw) Provinsi Bali, Kamis (22/3).

Maka dari itu, ia sedang menyusun strategi agar tingkat inflasi tidak terlalu tinggi. Namun diakui, pertumbuhan yang tinggi biasanya juga diikuti tingkat inflasi yang tinggi. “Karena biasanya pertumbuhan meningkat ada tekanan inflasi. Tapi kita berupaya agar pertumbuhan meningkat, tapi inflasinya kita redam,” tandasnya.

Yang diantisipasi nantinya adalah kenaikan harga tiket pesawat, kenaikan harga sewa rumah, kenaikan upah buruh karena banyaknya infrastruktur yang dibangun. “Tiga hal itu nanti yang akan kita sasar. Kalau yang dari sisi makanan (volatile food) rasanya sudah lebih mudah. Cuma 3 ini yang menjadi perhatian utama,” ungkapnya.

Khusus tiket pesawat, strategi yang digunakan untuk mengantisipasi adalah meminta maskapai menambah jumlah penerbangan ke Bali, menyediakan pesawat berbadan lebar agar supply seat tersedia.

Baca juga:  WAN-IFRA Gelar Publish Asia 2018 di Bali

Selain itu juga meminta Angkasa Pura atau otoritas bandara untuk menambah slot penerbangan. Seperti yang dilakukan tahun 2017 saat Lebaran.

Cara itu dinilai ampuh untuk menekan inflasi harga tiket pesawat. Karena tahun 2017 lalu, cara itu mampu menekan inflasi bahkan deflasi.

Sementara strategi menekan harga sewa rumah masih dikoordinasikan dengan berbagai pihak termasuk Gubernur. Harga sewa rumah diprediksi meningkat nantinya karena saat IMF-WB tidak hanya tamu resmi yang datang, tapi juga banyak tamu pengiringnya.

Seperti teknisi dari masing-masing negara yang diprediksi akan mengontrak rumah atau akomodasi lainnya.

Sedangkan Pilkada tidak terlalu berpengaruh terhadap inflasi. Karena saat ini ada pergeseran cara kampanye. “Sekarang kampanye tidak di lapangan karena lebih banyak kunjungan ke pasar-pasar. Mereka kampanye simpatik ke pasar. Kalau dulu kan di lapangan, sewa dangdutan, dll,” bebernya.

Ditambah dengan situasi masyarakat yang tidak terlalu kaget dengan adanya pilkada. Masyarakat mulai sadar bahwa pilkada adalah suatu keharusan. “Jadi tidak ada euphoria,” imbuhnya.

Ia menargetkan inflasi tahun ini 3,5 persen plus minus satu. Yang berarti range target inflasinya 2,5 persen sampai 4,5 persen. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.