Sejumlah pengungsi sedang tidur di salah satu wantilan di Desa Pertima, Karangasem. (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Acara malam pergantian tahun di Karangasem akan sedikit berbeda. Kegiatan pergantian tahun, Minggu (31/12), dipastikan tanpa pesta kembang api.

Ini sebagai bentuk empati terhadap situasi saat ini, dimana puluhan ribu warga Karangasem masih harus berjuang hidup di pengungsian. Malam pergantian tahun baru di Karangasem, sepenuhnya akan diisi dengan doa bersama lintas agama, yang digagas penuh oleh induk organisasi kepemudaan, KNPI Karangasem.

Dalam situasi seperti sekarang, upaya yang bisa dilakukan hanya berdoa untuk memohon keselamatan bersama. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depan terhadap aktivitas Gunung Agung.

Dengan situasi sekarang, apakah Gunung Agung akan selanjutnya kembali tenang seperti sedia kala, atau justru sebaliknya, sebagaimana kekhawatiran banyak pihak.

Malam doa bersama ini akan dikemas dalam kegiatan doa lintas agama, dimana masing-masing perwakilan umat, baik dari Islam, Hindu, Buddha dan Kristen akan menyampaikan doa menurut keyakinan yang dianut.

Malam pergantian tahun ini, rencananya dibuka untuk umum. Sekaligus bersama-sama memanjatkan doa yang tulus, memohon kepada Tuhan dan alam semesta agar ancaman bencana ini segera berakhir.

Selain doa bersama, malam pergantian tahun baru ini juga akan diisi dengan pementasan kesenian khas agama masing-masing. Seperti Islam akan menampilkan rudat, Buddha akan menampilkan kesenian barong sai, Kristen akan menampilkan nyanyian-nyanyian khas ketuhanan, demikian juga dengan umat Hindu yang akan menampilkan nyanyian dharma. “Nanti juga akan ada pembagian bingkisan untuk para sulinggih,” kata Sekretaris KNPI Karangasem, I Gusti Ngurah Setiawan, Sabtu (30/12).

Malam pergantian tahun ini rencananya juga akan dihadiri Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri dan Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa. Perayaan malam tahun baru akan dipusatkan di Gedung UKM Center Amlapura.

Baca juga:  Anak Yang Dikandung Komang Pinti Meninggal Dalam Pengungsian

Selain rangkaian acara di atas, penghujung tahun 2017 ini juga terasa istimewa bagi keduanya. Karena 31 Desember merupakan hari ulang tahun keduanya. “Nanti kami juga siapkan kue untuk Ibu Bupati dan Wakil Bupati. Kita sisipkan perayaanya nanti di sana,” tegas Gusti Ngurah Setiawan.

Malam doa bersama dengan tema “Pray for Karangasem” ini, menjadi agenda terakhir KNPI Karangasem tahun ini. Ketua KNPI Karangasem, I Gusti Putu Parwata menambahkan, selama ini banyak hal yang sudah dilakukan KNPI Karangasem, sejak dampak status awas Gunung Agung terjadi pada 22 September lalu.

Seperti menyalurkan dan mengkoordinasikan kebutuhan logistik ke titik pengungsian yang kekurangan logistik, memberikan hiburan kepada pengungsi, mengedukasi anak-anak untuk memulihkan mental mereka, dan membagikan masker dan snack. KNPI Karangasem juga memberi pakan hewan peliharaan warga di zona rawan bencana, yang terpaksa ditinggal warga karena harus mengungsi.

Berbagai upaya itu dilakukan untuk mendukung penanganan pengungsi Gunung Agung oleh pemerintah daerah. Semakin banyak yang terjun membantu penanganan, berbagai kendala yang ditemukan di lapangan lebih cepat tertangani.

Gusti Putu Parwata menegaskan, pemuda harus turun tangan dan mengambil peran yang tepat di tengah situasi ini. Bukan larut dalam perdebatan untuk mencari yang benar dan salah. “Kami berharap dengan doa yang tulus lintas agama ini, Gunung Agung bisa kembali tenang dan situasi kembali normal,” tegas tokoh pemuda yang akrab disapa Gus Par ini. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.