Perbekel Sibetan I Nengah Kompiang. (BP/gik)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Sumber-sumber mata air di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, mulai mengecil. Melihat situasi ini, perangkat desa setempat, khawatir ribuan pengungsi di Sibetan mengalami kesulitan air bersih.

Perbekel Sibetan I Nengah Kompiang, Rabu (13/12), mengatakan para pengungsi di beberapa titik pengungsian sangat membutuhkan pasokan air bersih, untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Dia menegaskan, akan menyampaikan permasalahan ini kepada pemerintah daerah, agar segera dipasok air bersih.

Beberapa bantuan tandon dari pihak BUMN maupun swasta juga sudah lama kosong. “Pasokan air bersih di desa kami sudah mengecil. Airnya sangat terbatas. Kami butuh pasokan air bersih dari pemerintah daerah,” kata Kompiang.

Ia mengatakan total jumlah pengungsi di desa ini mencapai 3.875 orang. Para pengungsi tersebar di sepuluh banjar dinas.

Direktur PDAM Karangasem Gusti Singarsi mengaku siap mendistribusikan air bersih dimana pun titik pengungsian yang membutuhkan air bersih. Namun, agar bantuan dapat dipertanggungjawabkan, permintaan pasokan air itu agar mengikuti mekanisme yang sudah berjalan. Yakni, diusulkan klian banjar dinas setempat kepada camat, kemudian diteruskan ke PDAM Karangasem.

Baca juga:  Diguyur Hujan Deras Tiga Hari, Gunung Agung Keluarkan Solfatara hingga 1.500 Meter

Sebab, selama ini ada pula yang tiba-tiba menghubungi PDAM untuk minta, ternyata setelah ditindaklanjuti ke lokasi, kebutuhan air bersih sudah mencukupi. “Tinggal sampaikan saja lokasinya dimana. Mobil operasional siap setiap saat ke lokasi,” katanya.

Berbeda dengan perbekel, menurut para pengungsi setempat, sumber-sumber mata air di Desa Adat Sibetan (mewilayahi dua desa dinas, Desa Sibetan dan Desa Jungutan) masih dalam situasi normal. Seperti mata air Dukuh Moding, yang dimanfaatkan oleh PDAM Karangasem dan sumber mata air Telaga Tista yang juga dimanfaatkan untuk permandian umum dan kebutuhan air bersih.

Ada juga sumber mata air yang jadi Kayoan Jepun, sumber airnya juga dikatakan masih normal. “Setahu saya sumber-sumber mata air masih normal disini. Mungkin yang dimaksud sumber air mengecil itu adalah yang di tandon-tandon di lokasi pengungsian,” kata salah satu pengungsi Kadek Darnita. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.