Suasana di Pantai Mengiat, Nusa Dua. Foto diambil pada Senin (4/12). (BP/edi)
DENPASAR, BALIPOST.com – Pariwisata Bali kini mengalami kelesuan. Untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, pelaku pariwisata diminta menggenjot pasar wisatawan domestik.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, AA. Ngurah Alit Wiraputra mengatakan, kondisi pariwisata sedang menurun dan memprihatinkan. Hal ini tidak terlepas dari rentannya pariwisata terhadap isu-isu keamanan termasuk bencana alam.

Ia mengutarakan beberapa negara sudah menyampaikan imbauan bagi warganya untuk berhat-hati saat melakukan kunjungan ke Bali karena erupsi Gunung Agung. “Inilah saatnya kita berbenah untuk memperbaiki pariwisata ini. Maka dari itu Kadin berharap teman-teman pariwisata mulai berpikir secara komprehensif, secara bijak, bagaimana menata pariwisata ke depan. Sehingga yang kita takutkan ke depannya itu adalah adanya PHK tidak terjadi,” ujarnya, Senin (4/12).

Status tenaga kerja di hotel tidak hanya karyawan tetap atau kontrak, namun juga ada tenaga harian. Menurutnya, pekerja harian ini yang paling terkena dampak dari sepinya pariwisata Bali. Hampir semua hotel memiliki tenaga daily worker (DW). Presentasenya 70:30, 30 DW, dan 70 karyawan. Bahkan ada yang 50:50. “Mereka tidak dibutuhkan lagi karena hunian sepi. Karena DW dipakai kalau hunian ramai, kalau okupansi tinggi,” ungkapnya.

Baca juga:  Penerbangan Akan Mulai Normal 2 Jam Setelah Dibuka

Menurutnya, yang bisa dilakukan saat ini agar tidak sampai merumahkan karyawan adalah melirik dan menggenjot pasar domestik. “Dan ada kebijakan dari pemerintah pusat untuk mendorong pariwisata ini. Sehingga tidak terjadi kekhawatiran itu seperti mem-PHK karyawan, pengurangan tenaga, dan sebagainya,” ungkapnya.

Ke depannya, ia menilai pariwisata akan terpuruk karena Gunung Agung tidak bisa diprediksi kapan meletus dan selesai meletus. “Pariwisata harus stabil, tidak boleh turun naik,” tegasnya.

Kadin berharap pelaku pariwisata mengambil tindakan yang bijak dan komprehensif untuk tidak melakukan PHK secara tergesa-gesa. Tapi mencari jalan keluar lain.

Wakil Ketua DPP IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association), I Made Ramia Adnyana mengatakan, terkait “merumahkan” karyawan, pihaknya belum mendapat informasi dari anggotanya. Namun memang, hotel memakai sistem daily worker. Itupun dalam jumlah yang kecil dan tergantung kebutuhan hotel. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.