gedung
Warga pengungsi di Posko Pngungsian di UPTD saat membangun tenda di bantu PMI dan TNI, Kamis (23/11). (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Warga pengungsi yang menempati posko pengungsian di UPTD Pertanian, Desa Rendang, terpaksa membanguan tenda di lahan kosong yang ada di posko tersebut. Pembangunan tenda itu dilakukan, menyusul gedung yang sebelumnya yang mereka tempati bakal dipergunakan petugas UPTD untuk pegawai dan untuk ruang pertemuan.

Koordinator Posko Pengungsian di UPTD Pertanian, Rendang, Karangasem, I Nengah Sama, Kamis (23/11) mengungkapkan, pembangunan tenda yang dilakukan pengungsi, mengingat gedung yang sebelumnya ditempati oleh bakal dipergunakan sebagai petugas UPTD dan akan dipakai menerima tamu jika ada pertemuan yang dilakukan petugas UPTD Pertanian serta menjalankan tugas sebagai pegawai.

“Karena gedungnya dipakai, warga terpaksa harus membuat tenda untuk tempat tempat tidur. Kebetulan juga ada terpal bantaun dari para donator,” katanya.

Sama menjelaskan, bahan untuk membuat tenda tersebut berupa bamboo, kayu dan yang lainnnya disiapkan secara mandiri oleh masing-masing pengungsi yang bakal menempati tenda tersebut. Kata dia, tenda yang akan dibuat tersebut sebanyak 64 unit tenda. Dimana pengerjaan itu akan dilakukan secara pertahap.

“Untuk pembuatan tenda hari ini kita tergetkan 25 unit tenda. Pengerjaannya dilakuakn secara swadaya oleh pengungsi yang dibantu dengan PMI dan TNI. Tapi itu juga tergantung cuaca apakah mendung atau tidak. Kalau misalkan turun hujan, ya kita akan lanjutkan besok,” katanya.

Baca juga:  Melihat Pengungsi, Ini yang dilakukan Turis di Desa Tenganan

Lebih lanjut dikatakannya, untuk satu tenda yang dibangun tersebut bakal diisi oleh satu Kepala Keluarga (KK). Mengingat tidak semua pengungsi membangun tenda. Sebab, pngungsi yang membangun tenda ini, merupakan pengungsi yang sebelumnya menempati gedung yang digunakan tersebut. Sementara warga pengungsi yang berada di aula, mereka tetap tidur disana.  “Nanti satu tenda yang dibangun akan disekat untuk tempat tidur dan tempat untuk memasak. Jadi per KK bisa masak sendiri-sendiri di tenda merka masing-masing,” jelas Sama.

Disinggung terkait jumlah pengungsi di posko pengungsian di UPTD Pertanin, pria yang juga sebagai menjelaskan, ada 390 orang. Dimana pascaadanya letusan freatik dua hari lalu, jumlah pengungsi menjadi bertambah 10 orang. “Kalau data pastinay belum tahu. Itu baru dat sementara. Karena kita tidak tahu apakah mereka tetap akan mengungsi atau kembali ke rumah mereka,” tutupnya.

Sementara itu pengungsi asal Banjar Kesimpar, Desa Besakih I Nyoman Suterena mengungkapkan, warga membangun tenda ini karena tempat yang sebelumnya ditempati dirinya akan dipergunakan. Maka dari ituah, dirinya bersama warga lainnya yang sebelumnya menempati gedung tersebut membuat tenda. “Untuk bahan bamboo tali kita yang bawa secara mandiri. Kalau terpalnya dapat bantuan dari PMI,” jelas Suterena. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.