Petani lokal Tabanan tidak bisa memenuhi kuota ekspor sehingga diambil alih Jabar. (BP/dok)
TABANAN, BALIPOST.com – Tahun ini kuota ekspor manggis Tabanan diambil alih Jawa Barat. Kondisi ini pun terpaksa diterima para petani yang biasanya mengisi kuota ekspor tersebut.

Menurut petani sekaligus eksportir manggis Tabanan, Jero Putu Tesan, cuaca buruk pada tahun ini yang menyebabkan petani lokal harus merelakan kuota ekspornya diambil alih Jabar. Petani manggis asal Desa Padangan, Kecamatan Pupuan ini mengatakn tepatnya Desember ini, kuota ekspor yang dimiliki oleh Bali tidak bisa dimanfaatkan secara optimal oleh petani lokal Tabanan. Kuota ini sebagian besar akan diisi oleh Jabar dan hanya sedikit yang akan diisi oleh petani lokal.

Jelas Tesan yang juga Ketua Asosiasi Manggis Indonesia, diambil alihnya kuota ekspor manggis Bali karena produksi manggis ditingkat petani lokal salah satunya Tabanan mengalami penurunan. Kondisi ini dikarenakan cuaca ekstrem dan tingginya curah hujan. Cuaca ini membuat produksi buah manggis Bali secara umum menjadi turun. “Dari jumlah pohon manggis, yang
mampu berproduksi sekitar 10-15 persen,” katanya.

Tesan yang juga ekportir manggis ini melanjutkan turunnya produksi manggis Bali membuat petani lokal tidak bisa memenuhi permintaan ekspor. Sementara itu, Jabar masih bisa menghasilkan manggis setidaknya 40 persen keberhasilan di tengah cuaca ekstrem. “Kareanya kami berencana mengisi kuota ekspor dengan memasukan produksi dari Jabar. Sebab, pemenuhan kuota ini menjadi salah satu tolak ukur kepercayaan buyer yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Baca juga:  Cuaca Buruk Ganggu Penyeberangan di Padangbai

Ia melanjutkan cuaca yang mendukung manggis untuk berbuah maksimal adalah cuaca panas setidaknya antara Juli hingga Oktober. Dalam bulan-bulan tersebut, tanaman manggis mulai berbunga dan membutukan suhu yang panas untuk mengembangkannya sebagai cikal bakal buah.

Setelah periode pengembangan bunga yaitu Juli hingga Oktober, manggis memerlukan cuaca hujan untuk kelanjutan pertumbuhan cikal bakal buah. Namun kenyataannya tidak demikian. Hujan justru turun saat proses pengembangan bunga sehingga daun manggis menjadi tumbuh sumbur dan tidak menumbuhkan bunga.

Tesan berharap pemerintah bisa memberikan solusi atau memberikan informasi berupa penerapan teknologi yang bisa diadopsi oleh petani manggis agar mampu menyelamatkan produksi pada musim panen selanjutnya. Sebab, ancaman cuaca ekstrem ini akan
berpeluang terus membayangi di masa mendatang. (Wira Sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.