SINGARAJA, BALIPOST.com – Sekitar 500 orang pengungsi asal Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem yang menempati Balai Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula antusias menyaksikan penampilan Joged Bungbung. Hiburan tradisional ini sengaja dipentaskan oleh Sekha Rindik Teja Mekar Desa Tejakula untuk berpartisipasi memulihkan kondisi psikis para pengungsi.

Suasana tampak berbeda di posko pengungsian di Balai Desa Tejakula. Suara gelak tawa pengungsi pecah saat penari joged bungbung mencari penonton untuk ikut menari (ngibing). Silih berganti pengungsi ikut menari bersama, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Selain itu, pengungsi ini berbaur dengan warga Desa Tejakula menonton pementasan Joged Bungbung tersebut. Kelian Sekha Rindik Teja Mekar, Wayan Swasta mengatakan, kondisi pengungsi setelah dievakuasi pascastatus awas Gunung Agung mempengaruhi kondisi mental dan pikiran pengungsi. Situasi ini jika tidak ditangani, dikhawatirkan akan memicu persoalan yang lebih serius.

Untuk itu, pihaknya berpartisipasi untuk memberikan hiburan kepada pengungsi pihaknya mementaskan joged bungbung di posko pengungsian. Dengan hiburan ini, Swasta yakin kalau beban pikiran pengungsi menjadi lebih baik dan bisa berpikir tenang.

Baca juga:  Tim Crisis Center Kemenpar Terus Pantau Situasi Gunung Agung

“Kita berpartisipasi untuk menghibur pengungsi, karena kita ketahui kondisi pikiran tidak tenang setelah dievakuasi dan sekarang tinggal di pengungsian. Mudah-mudahan dengan hiburan ini bisa sedikit menenangkan pikiran warga pengungsi ini,” katanya.

Sementara itu, salah seorang pengungsi Nyoman Sudiarta mengaku senang setelah menyaksikan penampilan kesenian joged bungbung. Dia pun berterimakasih dengan perhatian warga aparat desa dan warga yang membantunya di pengungsian.

Tidak hanya itu, Sudiarta sendiri mengaku pasrah dengan nasib jika Gunung Agung erupsi. Dia pun merencanakan jika dampak erupsi akan menghilangkan semua usahanya di Desa Ban, dirinya akan mengadu nasib untuk bekerja serabutan di sekitar Desa Tejakula dan sekitarnya.

“Senang sekali ada hiburan seperti ini, jika di rumah perasaan saya tidak karuan. Semua yang telah membantu selama di pengungsian, kami sudah diperhatikan dari makanan hingga hiburan. Kalau lama saya dalam pengungsian, sapi saya akan saya jual semua, dan saya akan mencari pekerjaan di sekitar sini,” tuturnya. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.