Ilustrasi. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Berdasarkan data hingga Juli 2017, nilai transaksi pasar modal di Bali mencapai Rp 5 triliun. Terbesar di Februari, mencapai Rp 823 miliar dan Maret Rp 817 miliar.

Jumlah tersebut seiring dengan pertumbuhan investor di Bali. Pada 2017, berdasarkan jumlah rekening (SRE/sub rekening efek), terjadi peningkatan 13 persen dari tahun sebelumnya yaitu dari 10.158 menjadi 11.524 rekening. Sedangkan berdasarkan jumlah investor (SID) meningkat 15,74 persen yaitu dari 8.499 menjadi 9.837 investor.

Kepala Kantor IDX Denpasar I Gusti Agus Andiyasa, Sabtu (2/9) mengatakan makin meningkatnya jumlah transaksi juga karena kondisi di pasar modal saat ini semakin baik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini yaitu 5.800. Tahun 2016, IHSG berada di angka 5.000, namun terus tumbuh menjadi 5.500 dan kini 5.800.

“Kalau kita mau lihat kondisi pasar modal, dilihat dari IHSGnya naik atau turun,” ujarnya.

Equity-nya juga cukup baik, mengalami peningkatan setiap bulannya. “Kalau satu tahun terakhir kita terbaik di dunia secara return kurang lebih 200 persenan. Tahun ini kita masih positif,” ujarnya.

Ditambah lagi kebijakan Bank Indonesia menurunkan suku bunga hingga 4,5 persen, semakin membuat pasar modal bergairah. “Secara makro, penurunan suku bunga berdampak positif pada pasar modal. Karena biasanya investor akan mengalihkan uangnya dari sektor perbankan ke sektor lainnya salah satunya pasar modal,” jelasnya.

Baca juga:  Investor Arab Saudi Bisa Berinvestasi di Dua Sektor Ini

Pihaknya juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar semakin banyak masyarakat yang berinvestasi di pasar modal. Salah satunya melalui galeri investasi di kampus-kampus.

Sejak dibukanya galeri investasi, jumlah pelajar dan mahasiswa yang menjadi investor meningkat yaitu 1.726, terbesar kedua setelah pegawai swasta yaitu 3.497. Sedangkan dari jumlah rekening efek, pelajar atau mahasiswa juga tercatat terbesar kedua memiliki rekening efek yaitu 1.876 rekening, dan terbesar adalah pegawai swasta yaitu 3.845 rekening.

Selain melakukan sosialisasi dan edukasi, BEI juga mendorong perusahaan untuk go public. “Tahun ini lumayan perusahaan di Indonesia yang sudah go public, karena demand itu terbentuk karena ada supply juga, dan kita juga dalam waktu dekat akan mengadakan public ekspose yang tujuannya mendekatkan investor dengan emiten,” bebernya.

Selama ini image emiten jauh dari investor. Investor hanya membaca laporan keuangan perusahaan yang dibeli dan melihat di TV. Total perusaan di Indonesia yang sudah go public (IPO) adalah 555 perusahaan. Ia berharap, semakin banyak perusahaan di Bali yang IPO. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.