hamil
Ilustrasi. (BP/dok)
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung, melalui Dinas Kesehatan setempat, menyiapkan sedikitnya 100 orang konselor untuk program pendampingan bagi para penderita penyakit HIV-AIDS di Gumi Keris. Terlebih, fenomena gunung es ini hingga Desember 2016 tercatat mencapai 2.497 kasus. Angka ini terbagi menjadi 1.453 kasus HIV dan 1.044 AIDS.

Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, mengatakan dalam penanggulangan masalah HIV/AIDS adalah masalah global dan bukan masalah di Kabupaten Badung saja. “Untuk itu sangat penting kita memiliki tenaga-tenaga konselor yang mempunyai kapasitas dan kompetensi dalam hal memberikan konseling kepada masyarakat mengenai HIV/AIDS,” ungkap Wabup Suiasa, Sabtu (26/8).

Menurutnya, penderita HIV/Aids adalah penderita lahir dan batin, sehingga perlu orang-orang yang mampu dan mau melakukan pendekatan-pendekatan psikologis. Dengan adanya tenaga konselor, penderita mau terbuka terhadap kondisi dirinya, mau melaksanakan pengobatan dan mau ditangani secara terus menerus. “Begitu pentingnya tenaga koselor, sehingga seorang konselor perlu mendapatkan penyegaran, penambahan pengetahuan, di mana faktor – faktor lingkungan global dan faktor intern mesti harus dikuasai oleh para konselor untuk pendekatan dan penanganan yang cepat,” jelasnya.

Selain tenaga konselor, Pemkab Badung juga menyiapkan tenaga kesehatan, baik di Puskesmas, Rumah sakit pemerintah dan swasta di wilayahnya dalam rangka mencegah penyebaran HIV-AIDS. Bahkan, pihaknya akan mengangkat satu petugas setiap desa/Kelurahan yang bertugas melakukan penjangkauan HIV/AIDS. “Sebagai bentuk kesungguhan dan komitmen kita dalam penanganan HIV/AIDS di Badung, maka di tahun 2017 kami memiliki 1 orang petugas penjangkau HIV/AIDS setiap desa,” ucapnya.

Baca juga:  Dua Tanggul Jebol Perlu Penanganan

Dikatakan, pengangkatan petugas penjangkau HIV/AIDS tiap desa ini bertujuan mencegah dan menangkal sejak dini dan melakukan pendampingan kepada penderita serta meningkatkan jalur komunikasi tentang perkembangan HIV/AIDS melalui tingkat Desa. Petugas ini nantinya akan diberikan pembekalan yang sifatnya teoritis serta praktis sehingga kader-kader ini memiliki kapabelitas tentang bidang tugasnya di desa.

“Selain petugas penjangkau HIV/AIDS di desa, kami juga mempunyai gagasan untuk membuat kesepakatan dengan Desa Adat se-Badung bersama-sama bergerak untuk melakukan sosialisasi, memberikan informasi dan berinteraksi seluas-luasnya dengan warga desa adat yang menderita HIV/AIDS,” jelasnya.

Menurutnya, desa adat juga mempunyai tanggungjawab moral terhadap kramanya, jangan sampai banyak yang terjangkit virus HIV/AIDS. Penanggulangan HIV/AIDS di Badung ini tidak hanya dilakukan melalui pendekatan formalistik semata, namun juga mencoba melakukan pendekatan non formalistik yang sifatnya budaya. “Kami juga meminta KPA Badung nanti membuat satu agenda untuk mensosialisasikan HIV/AIDS ini melalui pementasan seni tradisional,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.