ceking
Terlihat sejumlah wisatawan yang berkunjung ke Objek Wisata ceking dengan menyaksikan pemasangan seng di atas lahan pertanian berundak. (BP/nik)
GIANYAR, BALIPOST.com – Objek wisata Ceking, Tegalalang, berupa terasering persawahan kembali terusik dengan pemasangan seng. Sebanyak tujuh lembar seng dipasang di objek wisata Ceking oleh pemilik lahan Gusti Ngurah Candra. Pria asal Banjar Kebon, Desa Kedisan ini mengaku melakukan hal tersebut lantaran kesal tak mendapat bagian jatah uang bulanan dari pihak pengelola Objek Wisata Ceking.

Aksi pemasangan tujuh lembar seng itu membuat pemandangan kurang mengenakkan untuk disaksikan wisatawan yang berkunjung dari kejauhan. Ditemui Kamis (3/8), Gusti Ngurah Candra mengaku pemasangan seng tersebut sudah dilakukan sejak seminggu lalu. Alasannya karena dirinya saja yang belum memperoleh jatah bulnan dari pengelola objek wisata tersebut. “Semua yang punya lahan disana dapat sampai Rp 4,5 juta per bulan. Saya saja tidak. Entah apa masalahnya,” ungkapnya.

Gusti Ngurah Candra mengaku untuk memasang seng-seng tersebut, ia dibantu warga setempat yang selama ini menjadi penyakap sawahnya. “Parekan penanding saya minta beli seng langsung pasang,” jelasnya.

Selama seminggu lebih pemasangan seng tersebut, diakui belum menarik respon dari pihak pengelola dalam hal ini Desa Pakraman Tegallalang. “Bendesa tidak ada bicara apa. Kayaknya ngak mempan pasang seng,” terangnya.

Gusti Ngurah Candra pun tak bisa berbuat banyak. Ia yang tua renta tak lagi bisa pergi menyakap lahan seluas 1 hektar tersebut. Bahkan posisi lahan yang kurang strategis tersebut membuat enggan para penanding untuk mengerjakan sawahnya. “ Ada sekitar tiga musim disana tidak bisa ditanami, jadinya sekarang ya seperti itu, tidak bisa menghasilkan. Dulu padi, sekarang gak bisa ditanami. Jadi bagian dari pemandangan di Ceking, tapi tak dapat apa-apa,” jelasnya.

Baca juga:  Keluar Bali, Ribuan Motor Padati Gilimanuk

Penasehat pengelola objek wisata Ceking, Dewa Gede Rai Sutrisna menjelaskan pihak pengelola sudah melakukan pendataan, terhadap warga yang memiliki lahan di objek wisata tersebut. Diakui Gusti Ngurah Candra belum masuk dalam data tersebut. “Kalau tidak salah, ada sekitar 5 sampai 7 orang yang sejak awal dikomunikasikan. Mereka itu yang diajak diskusi terkait pengelolaan Ceking oleh Desa Pakraman,” jelas pria yang juga Perbekel Tegalalang ini.

Dikatakan sejak mulai dikelola 2012 lalu, per orang pemilik lahan mendapat kontribusi Rp 500 ribu per bulan. Jumlah tersebut sudah sesuai dengan kesepakatan bersama dengan menggunakan sistem kontrak. Beberapa tahun kemudian, seiring perkembangan pariwisata nilai kontraknya ditingkatkan menjadi Rp 2 juta per bulan. “ Sebulan terakhir inilah nilai kontrak kembali diperbaharui menjadi Rp 4,5 juta per bulan,“ katanya.

Terkait adanya upaya protes dengan cara memasang seng ini, Dewa Gede Rai Sutrisna mengatakan akan melakukan tindak lanjut. Diakui dalam hal ini hanya kurang komunikasi antara pihak pengelola dengan pemilik lahan. “ Dilihat dari posisi lahannya memang agak jauh ke utara, mungkin karena itu belum dikomunikasikan, ” terangnya.

Menciptakan suasana kondusif pihaknya berjanji akan melakukan rembug dengan pihak Desa Pakraman Tegallalang selaku pengelola. Meski saat ini diketahui belum ada upaya pengembangan view. “ Tapi kedepan, kemungkinan itu tetap ada. Masih ada waktu untuk berdiskusi,” tandasnya. (manik astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.