sarbagita
Sejumlah penumpang masuk ke dalam bus Trans Sarbagita yang berhenti di Halte Jalan PB Sudirman. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Sejak dioperasikan 17 Agustus 2011 silam, jumlah penumpang Trans Sarbagita diklaim meningkat. Kalaupun bus terlihat kosong, diklaim hanya pada jam-jam tertentu saja. Utamanya pada bus yang beroperasi di Koridor II yang melayani rute Batubulan -Nusa Dua-Central Parkir PP. Dinas Perhubungan khususnya UPT. Trans Sarbagita kini tengah mencari cara untuk menyiasati hal itu.

“Dari sisi jumlah penumpang, setiap tahun mengalami peningkatan terus. Kemudian kalau sepi penumpang, memang iya di jam-jam tertentu. Tapi bukan berarti tidak ada penumpang,” ujar Kepala UPT. Trans Sarbagita, Nyoman Sunarya dikonfirmasi, Minggu (30/7).

Sunarya mencontohkan Koridor II saat pagi ada banyak murid SMP dan SMA serta beberapa orang yang bekerja di Nusa Dua memanfaatkan transportasi massal itu. Namun, kesan tidak ada penumpang akan tampak saat jam kerja atau sekolah. Sama halnya dengan bus yang biasa mengangkut mahasiswa, akan terlihat kosong saat jam mahasiswa mengikuti perkuliahan. “Sekitar pukul 11.00 hingga 13.00 wita,biasanya penumpang agak berkurang. Tapi ada penumpang umum dan wisatawan, 1-2 orang menggunakan. Nanti mungkin di 2018, akan direncanakan di jam sepi penumpang bagaimana cara menyiasati,” jelasnya.

Artinya, lanjut Sunarya, sejauh ini belum ada wacana untuk menutup koridor yang jumlah penumpangnya sedikit. Alternatif yang berkembang sebagai ide untuk menyiasati sepi penumpang, salah satunya dengan mengoperasikan bus berukuran kecil. Seperti di koridor 1 yang melayani rute Kota (Gor Ngurah Rai pintu utara)-Garuda Wisnu Kencana (GWK) PP.

Baca juga:  Nyepi di Kuta, Pengelola Penginapan Diminta Mengedukasi Tamunya

“Ukuran bus terkait dengan biaya operasional. Kalau busnya gede, biayanya akan semakin besar. Kemudian loan factor-nya termasuk kemampuan kapasitas bus. Ketika banyak penumpangnya kalau bisa terangkut kan penuh kursinya. Tapi kalau sepi, daya tampung bus 50 terisi 10 kan kelihatan kosong. Itu mungkin salah satu alternatifnya kan diganti dengan bus yang kecil,” jelasnya.

Sunarya menambahkan, alternative lain adalah mengistirahatkan bus di jam sepi penumpang dan mengatur jarak antar bus dalam operasionalnya. Langkah inipun dapat mengefisienkan biaya. Disisi lain, pihaknya juga menanggapi kritik terhadap Trans Sarbagita yang kerap dinilai menyebabkan kemacetan. Padahal sejatinya, Trans Sarbagita merupakan program yang sangat visioner untuk mengatasi kemacetan.

“Kan banyak bus yang lain. Kalau mogok, mungkin iya kita akan menjadi salah satu penyebab. Tapi kalau kita membuat kemacetan, rasanya tidak mungkin karena bus kita hanya 15. Jarang-jarang lewat. Kami sudah berupaya menangani dengan petugas yang ada supaya cepat tertangani pada saat mogok,” tandasnya. (rindra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.