Beberapa pedagang daging babi tengah menunggu pembeli di Pasar Badung di eks Tiara Grosir, Denpasar. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus meningitis Streptococcus suis (MSS) sebelumnya sudah ada. Kasusnya bersifat sporadis, artinya kasusnya sekali-sekali ada. Tapi tidak sampai menimbulkan outbreak.

“Di RSUP Sanglah kasusnya sporadis, sekali -sekali ada. Tapi MSS pada anak belum ditemukan sampai saat ini,” kata Dokter Spesialis Anak Konsultan Saraf Anak RSUP Sanglah, Dr.dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A (K).

Lanjutnya, MSS bisa menyerang segala usia. Namun kelompok umur yang berpotensi besar terinfeksi MSS adalah kelompok usia dewasa. Karena orang dewas sudah mulai makan daging babi dan lawar.

Secara umum Anak -anak usia di bawah 5 tahun rawan terkena meningitis tetapi MSS jarang pada karena penularannya melalui daging babi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada usia di bawah 5 tahun pada umumnya anak lebih jarang makan babi apalagi lawar.

Ia menjelaskan, meningitis adalah radang selaput otak. Sedangkan jika otak yang terinfeksi disebut dengan encephalitis. Meningitis penyebabnya beragam. Salah satunya bakteri. “Kalau penyebabnya bakteri disebut meningitis bakteri. Kalau penyebabnya virus disebut meningitis virus,” jelasnya.

Bakteri Streptococcua suis adalah bakteri yang komensal ada di babi. Artinya bakteri tersebut memang ada di babi, namun tidak selalu menyebabkan babi sakit. Namun bakteri tersebut dapat membuat babi sakit jika kondisi ketahanan tubuh babi kurang baik.

Sampai saat ini tidak ada bukti yang mendukung adanya vektor pembawa bakteri Streptococcus suis. Makanya penularan bakteri tersebut dipercaya melalui bagian dari babi terutama babi yang tidak matang. Lalu termakan oleh manusia.

“Kalau JE (japanese ensefalitis) vektornya jelas diketahui yakni nyamuk culex, nyamuk menggigit babi yang terinfeksi virus JE. Kemudian nyamuk tersebut membawa virus JE di tubuhnya dan menggigit manusia,” pungkasnya.

Baca juga:  Pemeriksaan Kesehatan Seluruh Paslon di RSUP Sanglah

Ia yakin jika babi diolah dengan matang, digoreng dengan matang, bakteri yang terkandung pada babi tersebut akan mati. “Yang mencurigakan itu lawar yang menggunakan darah mentah,” tandasnya.

Sedangkan jika dibekukan, ia juga tidak yakin bakterinya mati. Karena jika dibekukan, beberapa bakteri dapat berubah bentuk untuk mempertahanan diri. Ia juga tidak meyakini bumbu pedas Bali (Basa Wayah) dapat membunuh bakteri tersebut. Karena yang dapat membunuh bakteri adalah suhu yang panas, bukan rasa pedas yang membuat rasa panas di mulut atau bibir.

Di Bali jumlah kasus meningitis dan encephalitis pada anak hampir sama. Pada meningitis atau ensefalitis, secara histopatologis sebenarnya yang terjadi adalah meningoencephalitis, kedua-duanya baik selaput otak maupun otaknya terkena dampak infeksinya karena secara anatomis letaknya sangat berdekatan antara otak dan selaput otak,” terangnya.

Gejala sisa dari meningitis bisa terjadi kecacatan bahkan kelumpuhan. Pada awalnya bakteri tersebut menyerang selaput otak. Mengingat selaput otak letaknya berdampingan dengan otak, maka besar kemungkinan juga menyerang otak. Sehingga pasien bisa mengalmi kelumpuhan, tuli, buta, tergantung bagian otak yang terinfeksi. “Secara prinsip infeksi bakteri streptococcus suis rentan menyebabkan meningitis yang menimbulkan kerusakan selaput otak dan otak,” tegasnya.

Namun demikian, penyakit yang disebabkan oleh bakteri lebih mudah diobati dibandingkan dengan virus. Karena infeksi bakteri dapat diobati dengan antibiotik. “Sedangkan virus sebagian besar belum ada antivirus yang spesifik,” imbuhnya.

Vaksin meningitis yang disebabkan oleh bakteri pun sudah ada. Namun hanya beberapa vaksin yaitu, vaksin meningitis yang disebabkan bakteri hemophilus influenza tipe B dan bakteri pneumococcus. Vaksin yang disebabkan bakteri lain, belum ada.(citta maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.