
BANGLI, BALIPOST.com – Krama pangempon Pura Merajan Agung Kayuan, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, bersiap menggelar pujawali Purnama Kelima yang puncak karyanya dilaksanakan pada Minggu (25/10). Rangkaian upacara telah dimulai sejak Kamis (15/10) dan akan berakhir pada Senin (26/10) mendatang.
Pujawali yang menjadi momentum penting bagi krama pangempon ini dilaksanakan melalui sejumlah tahapan upacara, mulai dari paruman pangedeng, memasar, mekayangan, mecaru, hingga ngaturin Ida Sesuhunan pada puncak karya.
Panglingsir Pura Merajan Agung Kayuan, Jero Mangku Ketut Marsidi, mengatakan seluruh rangkaian dudonan karya dilaksanakan berdasarkan tatanan adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, pelaksanaan pujawali tidak hanya menjadi wujud bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga momentum untuk mempererat kebersamaan pangempon dalam menjaga kelestarian adat, budaya, dan tradisi keagamaan di Desa Adat Songan.
“Pujawali ini merupakan kewajiban krama pangempon sebagai wujud bhakti kepada Ida Sesuhunan. Melalui pelaksanaan karya ini, kami berharap seluruh rangkaian berjalan lancar dan krama senantiasa diberikan kerahayuan,” ujar Jero Mangku Ketut Marsidi.
Adapun rangkaian dudonan karya diawali dengan paruman pangedeng pada Kamis (15/10), bertepatan dengan Wraspati Kliwon Klawu. Selanjutnya, pada Sabtu (17/10), dilaksanakan upacara memasar atau mameken.
Rangkaian berlanjut pada Minggu (18/10), bertepatan dengan Redite Pon Dukut, melalui upacara mekayangan, mecaru, dan ngadegang Galahan. Kemudian, pada Kamis (22/10), dilaksanakan nuur tirta serta ngodal Ida Sesuhunan.
Pada Jumat (23/10), krama melaksanakan melasti/makening ke Pura Petirtaan Hulundanu Batur. Sementara itu, pada Sabtu (24/10), dilaksanakan upacara ngwatos sebagai bagian dari rangkaian persiapan menjelang puncak pujawali.
Puncak karya akan berlangsung pada Minggu (25/10), bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung, melalui prosesi ngaturin Ida Sesuhunan. Pada hari tersebut, rangkaian karya langsung dilanjutkan dengan prosesi nyineb. Selanjutnya, pada Senin (26/10), dilaksanakan upacara nganyut sebagai penutup seluruh rangkaian pujawali Purnama Kelima di Pura Merajan Agung Kayuan.
Jero Mangku Ketut Marsidi berharap pelaksanaan pujawali ini dapat menjadi momentum bagi krama untuk semakin memperkuat rasa kebersamaan dan meningkatkan sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Selain sebagai pelaksanaan kewajiban keagamaan, pujawali ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi dan warisan leluhur yang telah menjadi identitas masyarakat Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli. (Pramana Wijaya/balipost)










