
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung mulai memetakan kesiapan kreativitas generasi muda melalui penilaian ogoh-ogoh yang berlangsung serentak di tujuh zona. Tim juri turun langsung ke lapangan untuk melihat progres karya sekaa teruna dan yowana penerima bantuan dana kreativitas menjelang Hari Raya Nyepi.
Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gede Eka Sudarwitha, mengungkapkan penilaian berjalan sesuai rencana meski masih ditemukan ogoh-ogoh yang belum selesai dikerjakan.
“Sekaa Teruna dan Yowana dinilai secara bersamaan dengan dibagi kedalam 7 zona dan 7 tim juri. Jadi masing-masing tim juri itu akan mendapatkan sasaran untuk dinilai sekitar 55 hingga 60 ogoh-ogoh dari 597 penerima bantuan dana kreativitas,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ogoh-ogoh yang belum rampung tetap masuk proses penilaian sebagai bagian evaluasi kesiapan kelompok. Penilaian telah dilaksanakan sejak Rabu (18/2) hingga Jumat (20/2). Penilaian ini mencakup ratusan kelompok pemuda di seluruh wilayah Kabupaten Badung dengan pembagian tujuh zona dan tujuh tim juri.
“Yang belum jadi juga turut dinilai, karena memang tujuan dari penilaian adalah salah satunya adalah untuk memantau kesiapan sekaa teruna dan yowana, sehingga menjadi bahan evaluasi bagi kami di Dinas Kebudayaan seperti apa nanti untuk upaya-upaya komunikasi dan pembinaan di masa mendatang,” jelasnya.
Penilaian tidak hanya berkaitan dengan penggunaan dana kreativitas, tetapi juga menentukan juara serta memetakan inovasi yang muncul. “Peserta akan dinilai meski pada saat itu belum jadi. Sebab, ada rentan nilai seperti satyam 5-30 kemudian Siwam 5-20 dan Sundaram atau Estetika 5-50 rentang nilainya. Nah itu (ogoh-ogoh yang belum rampung) akan masuk disana,” tegasnya.
Meski ada karya yang belum selesai, kesiapan sekaa teruna dinilai meningkat dibanding tahun sebelumnya. Dukungan anggaran yang lebih memadai serta pembinaan langsung dan melalui media sosial dinilai mampu memicu semangat berkarya. Seperti diketahui, tahun ini, dana kreativitas ogoh-ogoh resmi dinaikkan dua kali lipat dari sebelumnya, dari Rp20 juta menjadi Rp40 juta per ogoh-ogoh.
Disbud juga memastikan pemantauan terus dilakukan terhadap kelompok penerima dana. Mayoritas ogoh-ogoh saat ini disebut telah mencapai progres di atas 60 persen, apalagi adanya dorongan penggunaan arsitek lokal yang memicu kreativitas di tingkat desa.
“Masih ada waktu 10 hari kurang lebih untuk menyelesaikan, jadi mereka itu sudah sangat mengejar, ada yang bergadang sampai pagi,” pungkasnya. (Parwata/balipost)










