Proses perbaikan dan pembaruan pewarnaan (ngodak), tapakan Ida Bhatara Ratu Agung Sakti Pura Samuantiga bersiap melangsungkan ritual ngeratep sekaligus upacara melaspas. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Setelah menyelesaikan proses perbaikan dan pembaruan pewarnaan (ngodak), tapakan Ida Bhatara Ratu Agung Sakti, Pura Samuantiga bersiap melangsungkan ritual ngeratep sekaligus upacara melaspas, Jumat (9/10). Rangkaian ini menjadi pembuka dari puncak pujawali yang jatuh tepat pada Tumpek Wayang, Sabtu (10/10).

Penyarikan Bendesa Pura Samuantiga, Drs. Made Suweca Padang, Kamis (8/10) menjelaskan bahwa pujawali Ida Bhatara Ratu Agung Sakti rutin dilaksanakan setiap 210 hari sekali. Upacara ini berbeda dengan rangkaian Ida Bhatara Turun Kabeh saat Purnama Jiyesta yang melibatkan sasuhunan dari berbagai Pura Kahyangan Tiga dan desa pengempon.

Baca juga:  Bupati Kembang Hadiri Karya Pujawali Pura Luhur Dangkahyangan Rambut Siwi

“Prosesi ngodak Ratu Agung Sakti ini melibatkan seniman muda lokal serta didukung penuh oleh semangat gotong royong krama pengempon dan para dermawan,” ujar Made Suweca.

Upacara yang berlangsung selama tiga hari (nyejer) ini melibatkan belasan tapakan dari lima desa adat pengempon, yakni Desa Adat Bedulu, Tengkulak Kaja, Tengkulak Tengah, Taman, dan Wanayu Mas. Beberapa tapakan yang dipastikan hadir antara lain Ratu Agung Marga Bingung, Ratu Gede Pura Bukit Taman, Ratu Gede Jaksa Pura Jaksan Bedulu, Ratu Manik Batur Tengkulak Kaja, Ratu Gede Dalem Wanayu, Ratu Anom Gunung Sari Wanayu, Ratu Alit Tegallinggah, Ratu Mayun Tengkulak Klod, dan Ratu Gede Tengkulak Tengah.

Baca juga:  Karangasem Data ODGJ di Semua Desa

Sementara itu, tapakan Ratu Gede Beng dari Desa Adat Carangsari, Badung, berhalangan hadir karena masih menjalani proses maodakan.
Guna mengantisipasi penumpukan pemedek, prajuru Pura Samuantiga telah mengatur jadwal persembahyangan secara bergiliran.

Hari Pertama (Sabtu, 10/10), Puncak pujawali dimulai pukul 09.00 WITA hingga malam hari untuk krama Desa Adat Tengkulak Kelod, Tengkulak Tengah, Tengkulak Kaja, serta pemedek umum.

Hari Kedua (Minggu, 11/10), persembahyangan diperuntukkan bagi krama Desa Adat Bedulu, Tegallinggah, Margasengkala, Hyang Loni Desa Buruan, dan masyarakat umum.

Baca juga:  Cara Tradisional, Evakuasi Korban dan Mobil Terperosok di Danau Batur Berhasil Dilakukan

Prosesi Calonarang (Minggu Malam), Setelah upacara penganyaran pukul 18.00 WITA, dilanjutkan dengan pementasan Calonarang pukul 20.00 WITA. Sesuhunan Ratu Agung Sakti bersama belasan tapakan akan nemari (masolah napak pertiwi).

Hari Ketiga Senin (12/10), Upacara Penganyaran dan Nyidakarya dilaksanakan pukul 16.00 WITA, diakhiri dengan prosesi nedunang tapakan sesuhunan serta penyerahan pesegeh sebelum seluruh tapakan kembali ke payogan masing-masing.

Rangkaian panjang ini menjadi bukti nyata kuatnya kebersamaan, rasa tulus ikhlas, dan budaya gotong royong krama Bali dalam menjaga tradisi serta spiritualitas leluhur.(Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN