
BANGLI, BALIPOST.com – Krama yang melaksanakan ayah-ayahan di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, terus menunjukkan peningkatan. Sejumlah krama dari berbagai banjar, organisasi, kelompok, hingga perorangan secara sukarela datang dan bahu membahu untuk menyukseskan berbagai persiapan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di pura yang berada di ujung utara Danau Batur tersebut.
Kegiatan ngayah tidak hanya dilakukan membangun dan menyiapkan berbagai sarana upacara, tetapi juga mencakup penataan serta kebersihan lingkungan pura. Krama secara bersama-sama membersihkan areal pura, memungut sampah, menata lingkungan, serta memastikan kawasan tempat berlangsungnya kegiatan yadnya tetap bersih dan nyaman.
Koordinator Kebersihan, Komang Gede Artawan, Selasa (25/8) mengatakan semangat gotong royong menjadi gambaran kuatnya rasa kebersamaan krama dalam mendukung pelaksanaan Karya Tawur Agung di Pura Hulundanu Batur. Setiap orang mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing, sehingga berbagai pekerjaan dapat dilakukan secara bersama-sama dengan penuh keikhlasan.
“Tidak hanya tenaga, kehadiran berbagai kelompok dan perorangan dalam kegiatan ngayah juga menjadi bentuk dukungan moral terhadap rangkaian pelaksanaan karya. Suasana kebersamaan terlihat dari aktivitas krama yang sejak pagi hingga siang hari melaksanakan berbagai pekerjaan di areal pura,” katanya.
Ia menjelaskan semangat ngayah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelaksanaan yadnya bukan hanya tentang upacara secara ritual, tetapi juga menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan, serta mempererat hubungan antar-krama melalui semangat gotong royong.
Tingginya antusiasme krama juga menjadi bukti bahwa tradisi ngayah masih memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Kebersamaan yang terbangun dalam setiap ayah-ayahan menjadi bagian penting dari persiapan karya. Selain mempercepat pekerjaan, kegiatan ngayah juga mempererat tali persaudaraan dan rasa memiliki terhadap keberadaan Pura Hulundanu Batur.
“Antusiasme krama ini sekaligus menjadi cerminan kuatnya tradisi gotong royong di Desa Adat Songan. Melalui semangat ngayah, persiapan karya tidak hanya menjadi tanggung jawab segelintir orang, melainkan menjadi bagian bersama yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan rasa kebersamaan,” tegasnya. (Pramana Wijaya/balipost)










