
MANGUPURA, BALIPOST.com – Semangat gotong royong krama Desa Adat Sibanggede, Kabupaten Badung, kembali membuktikan kekuatan kebersamaan dalam menjaga tradisi leluhur. Hal ini terlihat nyata dalam pelaksanaan Karya Suci Piodalan Padudusan Agung yang berlangsung khidmat di Pura Puseh Desa Adat Sibanggede.
Kehadiran berbagai elemen masyarakat adat hingga dukungan pemerintah memperkuat jalannya upacara yang sarat makna spiritual tersebut.
Upacara besar ini menjadi bagian dari rangkaian Upacara Piodalan Mapadudusan Agung Menawa Ratna Medasar Caru Labuh Gentuh Ngusaba Desa Muang Ngusaba Nini Tahun 2026 yang bertepatan dengan Rahina Anggara Kasih Medangsia. Seluruh prosesi dijalankan secara tertib dengan melibatkan krama desa secara aktif, mencerminkan nilai ngayah yang masih kuat di tengah masyarakat.
Manggala Karya, Wayan Darma, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan upacara. Ia juga mengapresiasi dukungan dari Pemerintah Kabupaten Badung yang turut membantu terselenggaranya kegiatan sakral tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Badung yang di tengah kesibukannya masih berkenan hadir pada puncak karya ini. Selain itu, kami juga berterima kasih atas bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten Badung sebesar Rp1,5 miliar sehingga seluruh rangkaian karya suci dapat terlaksana sesuai harapan kami,” ungkapnya, Senin (13/7).
Partisipasi aktif krama desa terlihat sejak tahap persiapan hingga puncak karya. Mereka bahu-membahu menyiapkan sarana upacara, menjaga kebersihan area pura, hingga memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai dengan tata cara adat dan agama.
Usai puncak upacara, kegiatan dilanjutkan dengan Upacara Mepasaran dan Mapeselang sebagai bagian dari penyempurnaan yadnya. Rangkaian upacara suci ini dipuput oleh sejumlah Sulinggih yang memiliki peran penting dalam memimpin jalannya prosesi.
Upacara Padudusan Agung dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Geniten (Griya Dalem Sibanggede), Ida Pedanda Putu Peling (Griya Peling Blahbatuh), Ida Pedanda Nyoman Tulikup (Griya Tulikup), Ida Pedanda Gede Putra Singarsa (Griya Langon Sibang Kaja), dan Ida Pedanda Jelantik Giri (Griya Gunung Sari, Peliatan).
Sementara itu, Upacara Mepasaran dipuput oleh Ida Pedanda Istri Ketut Kanya Mas Kajeng dari Griya Kajeng Abiansemal. Upacara Mapeselang sekaligus Majejiwan dipuput oleh Ida Pedanda Ari Dwija Simpangan dari Griya Simpangan, Sandakan, bersama Ida Pedanda Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari, Peliatan. Selanjutnya, Upacara Ngindang dipuput oleh Ida Pedanda Istri Mayun, sedangkan Upacara Ngenyitin Linting dipuput oleh Ida Pedanda Istri Rai.
Pelaksanaan karya suci ini tidak hanya menjadi momentum religius, tetapi juga mempererat persatuan krama Desa Adat Sibanggede. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa menjadi fondasi utama yang terus dijaga lintas generasi. (Parwata/balipost)










