Prosesi Madamah dan Mejaya-Jaya hingga Nyukat Genah sebagai awal dari pelaksanaan upacara Tawur Agung di Pura Hulundanu Batur yang dilaksanakan, Rabu (12/8). (BP/jay)

BANGLI, BALIPOST.com – Rangkaian pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, mulai dilaksanakan, pada Rabu (12/8). Bertepatan dengan hari pelaksanaan upacara, berbagai prosesi keagamaan digelar sebagai bagian penting dari persiapan dan pelaksanaan karya yang menjadi momentum spiritual bagi krama Desa Adat Songan.

Sejumlah rangkaian upacara dilaksanakan di kawasan Pura Hulundanu Batur, mulai dari Madamah dan Mejaya-Jaya, Paku Agem, Maguru Piduka dan Bendu Piduka, Nanceb Tetaring, Ngunggahang Ilen-Ilen, hingga Nyukat Genah. Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses persiapan menuju pelaksanaan karya utama di Pura Hulundanu Batur.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan Madamah dan Mejaya-Jaya, sebagai bagian dari rangkaian penyucian dan persiapan secara niskala sebelum memasuki tahapan upacara berikutnya. Selanjutnya dilaksanakan Paku Agem, yang menjadi salah satu tahapan dalam menyiapkan berbagai kebutuhan dan kelengkapan upacara.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan Maguru Piduka dan Bendu Piduka. Prosesi tersebut menjadi bagian dari penghormatan dan permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya, sekaligus sebagai bentuk penyampaian permohonan agar seluruh rangkaian karya dapat berlangsung dengan baik, lancar, dan tanpa hambatan.

Baca juga:  Purnama Kasa, Pemkab Badung Gelar Karya Nyatur Rebah di Pura Lingga Bhuwana, Puspem Badung

Pada kesempatan yang sama, dilaksanakan pula Nanceb Tetaring, yakni pemasangan tetaring sebagai bagian dari penataan tempat pelaksanaan kegiatan upacara. Keberadaan tetaring menjadi salah satu sarana pendukung penting dalam pelaksanaan berbagai rangkaian yadnya yang akan berlangsung di Pura Hulundanu Batur.

Tahapan berikutnya adalah Ngunggahang Ilen-Ilen, yang turut menjadi bagian dari persiapan sarana dan kelengkapan upacara. Setelah itu dilaksanakan Nyukat Genah, sebagai proses penentuan dan penataan tempat yang akan digunakan dalam rangkaian pelaksanaan karya.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan para pemangku kepentingan adat, panitia karya, serta masyarakat yang hadir dari berbagai wilayah di Bali. Kehadiran masyarakat tidak hanya untuk mengikuti dan menyaksikan rangkaian yadnya, tetapi juga sebagai bentuk dukungan serta partisipasi dalam pelaksanaan karya di Pura Hulundanu Batur.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut hadir Yajamana Karya, Ida Shri Bhagawan Putra Nawa Wangsa dari Grya Kedhatuan Kawista Pura, Desa Belatungan, Kecamatan Pupuan. Kehadiran Yajamana Karya menjadi bagian penting dalam memberikan tuntunan serta memastikan rangkaian pelaksanaan karya berjalan sesuai dengan tata upacara dan ketentuan yang telah ditetapkan.

Ida Shri Bhagawan mengatakan, rangkaian upacara ini sekaligus menandai dimulainya tahapan penting dalam pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan. Seluruh prosesi dilaksanakan dengan penuh khidmat, khusyuk dan semangat kebersamaan, melibatkan unsur sulinggih, yajamana, peduluan adat, panitia, serta krama yang turut ngayah.

Baca juga:  Ini, Jadwal Sholat 22 September 2025 di Wilayah Denpasar

“Melalui rangkaian upacara Madamah, Mejaya-Jaya, Paku Agem, Maguru Piduka, Bendu Piduka, Nanceb Tetaring, Ngunggahanh Ilen-Ilen, hingga Nyukat Genah ini, kami berharap Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan menganugerahkan kerahayuan jagat, kertha raharja, serta keselamatan bagi seluruh umat sedharma,” ujar Ida Shri Bhagawan.

Lebih lanjut beliau berharap karya agung ini dapat menjadi momentum penyucian alam, penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit. “Semoga dengan tawur agung ini, segala mala dan bencana dapat sirna, energi negatif ternetralisir, dan alam Bali khususnya di wilayah Danu Batur kembali harmonis. Begitu pula semoga gotong royong dan bhakti tulus ikhlas dari seluruh pihak ini menjadi pahala, dan menjadikan Pura Hulundanu Batur tetap sebagai pancer jagat yang memancarkan kedamaian bagi Bali dan Nusantara,” pungkasnya.

Turut hadir Tapini Yadnya, Ida Mpu Siwa Putra Dharma Daksa dari Grya Lingga Acala, Desa Calo, serta Pengrajeg Karya, Dr. dr. A.A Gede Wiraguna, Sp.KK. dari Puri Agung Denpasar, Bangli. Selain itu, rangkaian kegiatan juga dihadiri oleh Peduluan Desa Adat Songan, jajaran Panitia Karya Tawur Agung Manca Wali Krama, serta masyarakat dari berbagai daerah di Bali.

Baca juga:  Jelang Galungan dan Kuningan, Harga Babi di Peternak Stabil 

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah masyarakat dari berbagai daerah juga turut ngaturang punia sebagai bentuk bhakti dan dukungan terhadap pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama. Punia yang dihaturkan masyarakat menjadi bagian dari semangat kebersamaan dan gotong royong dalam mendukung pelaksanaan karya.

Pelaksanaan karya di Pura Hulundanu Batur sendiri menjadi momentum penting bagi krama Desa Adat Songan. Berbagai persiapan telah dilakukan sebelumnya, baik dari sisi sarana upacara, penataan tempat, maupun kesiapan panitia dan masyarakat. Seluruh persiapan tersebut dilakukan secara bertahap agar setiap rangkaian upacara dapat terlaksana sesuai dengan dudonan dan tata titi yang telah ditentukan.

Kegiatan upacara tersebut dipuput Ida Shri Bhagawan Putra Nawa Wangsa. Dengan terlaksananya berbagai rangkaian awal tersebut, krama Desa Adat Songan bersama seluruh panitia selanjutnya akan melanjutkan tahapan-tahapan karya sesuai dengan dudonan yang telah disusun. (Pramana Wijaya/balipost)

BAGIKAN