
BANGLI, BALIPOST.com – Rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, terus berlangsung. Pada Selasa (8/9), rangkaian yadnya memasuki tahapan penting melalui pelaksanaan Mapakelem di Danau Batur (Danu Kertih) dan Gunung Batur (Wana Kertih).
Pelaksanaan upacara tersebut turut dihadiri sejumlah kepala daerah, di antaranya Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar dan Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga serta lainnya.
Kehadiran para pemimpin daerah tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya agung yang tidak hanya memiliki makna bagi krama Desa Adat Songan, tetapi juga mengandung nilai penting bagi keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat Bali secara keseluruhan.
Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyampaikan apresiasi kepada krama Desa Adat Songan yang telah melaksanakan karya tersebut dengan penuh kebersamaan dan ketulusan.
Menurutnya, pelaksanaan yadnya ini memiliki cakupan makna yang lebih luas karena menjadi bagian dari upaya menjaga keharmonisan jagat Bali.
Ia menyebut puncak Karya Tawur Agung Manca Wali Krama akan dilaksanakan pada Saniscara Umanis Bala, 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. “Astungkara melalui pelaksanaan karya ini, Pulau Bali senantiasa gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.
Mapakelem di Danau Batur menjadi salah satu prosesi yang sarat makna dalam rangkaian karya. Danu Kertih berkaitan erat dengan upaya penyucian, penghormatan, sekaligus pemeliharaan sumber-sumber air. Danau sebagai salah satu sumber kehidupan diposisikan sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Sementara Mapakelem di Gunung Batur dikaitkan dengan Wana Kertih, yang memiliki makna dalam menjaga kesucian dan kelestarian hutan serta kawasan pegunungan. Kedua prosesi tersebut menjadi satu kesatuan dalam konsep keseimbangan antara sumber air, kawasan hutan, gunung, dan kehidupan manusia.
Sementara prosesi Mapakelem di Danau Batur yang menggunakan sarana wewalungan antara lain kerbau, kambing, babi, angsa, bebek, dan ayam ini dipuput lima Sulinggih, yakni Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun dari Griya Kedhatuan Kawista Pura, Desa Belatungan, Pupuan, Tabanan, Ida Pedanda Gede Sogatha dari Tianyar, Ida Pandita Mpu Putra Prama Daksa dari Bongkasa, Ida Pedanda Rsi Pinatih Kesuma Yoga dari Tulikup dan Ida Mpu Siwa Putra Dharma Daksa dari Griya Lingga Acala, Desa Calo, Tampaksiring, Gianyar.
Sedangkan Mapakelem di Gunung Batur atau Wana Kertih dipuput oleh Ida Ratu Shri Bhagawan Putra Nata Bangli Anom Pemayun, I Pandita Mpu Celagi Dharma Kusuma dari Bungkulan, serta Ida Pedanda Sikara.
Pada hari yang sama, rangkaian karya juga diisi dengan Pamendak Tirta yang dipuput oleh Ida Ratu Shri Bhagawan Putra Nata Bangli Anom Pemayun. Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian penghormatan dan penyucian dengan menggunakan sarana tirta.
Nuansa religius dalam pelaksanaan karya semakin terasa dengan hadirnya ribuan umat untuk mengikuti prosesi sakral tersebut. Begitu pula ada berbagai kesenian di sejumlah lokasi. Di kawasan Segara, pementasan diisi Gong Dadia Kayuselem Kresek, Tari Rejang dari SDT Tirtha Nirmala, Baris Gede dari Sekaa Pregina Dadia Kayuselem Kresek, serta pementasan Topeng dan Sidakarya.
Sementara di tengah Danau Batur, tampil Sekaa Gong Dadia Pura Lebah Danginan, Tari Rejang dari Dadia Kayuselem Kresek dan Dadia Ida Ratu Ayan Penyarikan. Pementasan juga berlangsung di Pura Bukit Catu dengan menampilkan Sekaa Gong Banjar Kayupadi, Songan, Wayang oleh JMD I Wayan Contok, serta Sidakarya oleh JMD Dewa Oka bersama rekan-rekannya.
Seluruh rangkaian upakara dilaksanakan manut simadresta Desa Adat Songan dengan melibatkan unsur kepemangkuan dan prajuru adat, di antaranya Guru Kubayan, Jro Mangku Gede, Jro Dasaran, Jro Balian, dan Jro Penyarikan. Pelaksanaan Mapakelem di Danau Batur dan Gunung Batur pada akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan. Lebih jauh, kedua prosesi tersebut merepresentasikan kesadaran spiritual untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Melalui Danu Kertih dan Wana Kertih, pesan tentang pentingnya menjaga kesucian serta kelestarian danau, sumber air, hutan, gunung, dan lingkungan hidup kembali ditegaskan sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan dan keharmonisan jagat Bali. Selain itu, juga memohon keselamatan umat karena terjadi bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus di sejumlah wilayah. (Pramana Wijaya/balipost)










