Prosesi Nyenuk yang digelar serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Kamis (27/8). (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Ratusan krama mengikuti prosesi Nyenuk di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Kamis (27/8). Upacara yang digelar bertepatan dengan rahina Purnama Ketiga itu merupakan bagian dari rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama, upacara yang rutin dilaksanakan 10 tahun sekali.

Yajamana Karya Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun menyampaikan, upacara nyenuk melambangkan turunnya Ida Bhatara untuk memberikan anugerah serta memeriksa kesiapan jaton (sarana upakara). Dalam ritual tersebut, disimbolkan kehadiran utusan Ida Bhatara dari lima penjuru mata angin dengan warna busana menyesuaikan warna simbolis pengider-ider. Para utusan membawa beragam hasil bumi seperti umbi-umbian, buah-buahan, kayu, biji-bijian, hingga rumput laut untuk disucikan. Hasil bumi tersebut disiapkan sebagai sarana upakara.

Baca juga:  Ribuan Krama Padati Pura Dalem Puri, Upacara Nyenuk Jadi Puncak Syukur Karya Agung

Sarana tersebut nantinya ditunas (minta) kembali oleh krama sebagai paican (anugerah), dengan harapan agar apa yang ditanam krama berhasil panen serta kelangsungan sandang dan pangan krama Bali tetap terjamin.

Ida Sri Bhagawan Putra Natha mengatakan sebanyak empat orang Sulinggih memuput prosesi ini. “Dua Sulinggih muput di Bale Agung dan dua Sulinggih lainnya memimpin di sini (Pura Hulundanu Batur),” ujarnya.

Ketua Pelaksana Karya, Jero Saba, menyebutkan pelaksanaan upacara Nyenuk melibatkan sekitar 600 peserta dari berbagai kalangan mulai dari pemangku, seniman, hingga warga dari luar Kabupaten Bangli. Prosesi ini turut diwarnai tradisi medeeng oleh kaum ibu yang berjalan sepanjang 1,5 kilometer sambil menjunjung gebogan.

Baca juga:  Pura-Pura Belanja, Pembeli Bawa Kabur Kabel

Jero Saba menegaskan bahwa pelaksanaan Karya Tawur Agung Panca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur berpatokan pada prakempa, dan purana. Sebagai stana Ida Bhatari yang diyakini sebagai sumber kesuburan, ritual ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur umat.

Melalui Karya Tawur Agung Panca Wali Krama ini, diharapkan jagat Bali senantiasa rahayu (selamat), terhindar dari bencana, gemah ripah loh jinawi, serta tercipta keharmonisan antara buana agung dan buana alit. (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  Bali Alami Deflasi pada Juli 2026
BAGIKAN