Pembacaan Purana Pura Dang Kahyangan Prapat Agung di TNBB, Jumat (24/10). (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Setelah disusun dari berbagai sumber sastra dan lontar, Purana Pura Dang Kahyangan Prapat Agung akhirnya dibacakan resmi, Jumat (24/10). Pembacaan ini menjadi penanda rampungnya purana yang tersurat dalam 10 lembar tembaga tersebut.

Purana itu memuat kisah perjalanan suci Dang Hyang Nirartha, atau Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh, saat pertama kali menapakkan kaki di Pulau Bali. Beliau menyeberang dari Banyuwangi menuju Purancak di Jembrana bagian selatan, lalu melanjutkan perjalanan ke pesisir barat Pulau Bali hingga menemukan kawasan tiga telaga yang diartikan sebagai naga. Kawasan itulah yang kini menjadi Pura Dang Kahyangan Prapat Agung.

Dalam purana juga tertulis, parahyangan ini terletak di tepi barat Pulau Bali, di antara Jembrana dan Buleleng. Parahyangan ini berstana Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menjadi Pura Dang Kahyangan Dang Hyang Nirartha, tempat pertama beliau tiba di Bali.

Baca juga:  Wayang Wong Griya Penida Batuagung Iringi Karya Mamungkah Padudusan Agung di Pura Prapat Agung

Pura ini berdiri di atas batu karang, yang menjadi tempat payogan beliau dalam ngrastitiang Jagat Bali. Di tepi barat hutan Bali itu terdapat telaga tiga warna, di perbatasan Jawa-Bali dan Jembrana-Buleleng, yang terletak di perempatan dan berada di atas ketinggian atau pegunungan. Tempat ini kerap disebut Gunung Perapat Agung, dan menjadi tempat memohon keselamatan bagi Bali, sehingga dibangun kembali.

Bersamaan dengan rampungnya purana, perjanjian kerja sama antara pihak pura dengan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) turut dilengkapi. Kerja sama itu diperpanjang setiap lima tahun sekali. Luas Pura Dang Kahyangan ini 1,85 are, ditambah Pura Taman Beji seluas 5 are.

Yajamana, Ida Pedanda Griya Kusara, mengajak umat meningkatkan sradha bakti seiring selesainya purana. “Saat purana sudah selesai, mari tingkatkan sradha bakti,” ajaknya, didampingi Ida Pedanda Istri Griya Kusara dan Ida Pedanda Istri Mas Darmasaba.

Baca juga:  Pujawali Dalem Agung Pura Kawitan Pratisentana Sri Nararya Kresna Kepakisan

Ida Pedanda menegaskan, Pura Dang Kahyangan ini bukan hanya milik Jembrana, melainkan seluruh Bali hingga Umat Hindu Nusantara. “Purana dan Genteglinggih selesai sekaligus. Ini sudah sangat luar biasa, sehingga kita tinggal meningkatkan sradha bakti,” pintanya.

Sebelumnya, Pamucuk Pemaksan Pura Dang Kahyangan Pura Prapat Agung, Ida Bagus Susrama menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Bali melalui Dinas Kebudayaan dan Tim Purana yang hadir dalam acara ini. “Purana ini telah berjalan dengan baik,” katanya.

Pujawali Pura Dang Kahyangan Prapat Agung kali ini bertepatan pada Purnama Kalima, Minggu (25/10) dan akan nyineb pada 4 November 2026.

Sementara itu, Katim Sub Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Data dan Informasi Sejarah, Bidang Sejarah Dokumentasi Kebudayaan, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Made Purwita Suamem menjelaskan, purana sudah diserahkan secara simbolis pada 6 Agustus 2026. Saat itu secara fisik purana belum selesai.

Baca juga:  Tiga Ton Sampah Kiriman Dibersihkan di Pesisir Melaya

“Secara fisik saat itu belum selesai. Dan sekarang sudah selesai sehingga saat pujawali sudah bisa di-pasupati. Namun sebelumnya di-pasupati, maka dibacakan terlebih dahulu,” tuturnya.

Purwita yang mewakili Pemerintah Provinsi Bali dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, menjelaskan, purana merupakan sejarah atau catatan keberadaan pura yang mencakup sejarah pembangunan, pihak yang mendirikan, zaman pembuatan, hingga wilayah kekuasaan. “Purana ini disusun agar generasi berikutnya mengetahui latar belakang keberadaan pura,” jelasnya.

Ia juga mengimbau agar purana tidak disungsung atau diagungkan demi mencegah kerusakan bahan purana, seperti lempengan tembaga atau lontar, akibat kurangnya perawatan. Pemeliharaan dan pembersihan rutin perlu dilakukan secara berkala. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN