
SINGARAJA, BALIPOST.com – RSUD Kabupaten Buleleng menyiapkan pembangunan Stroke Center untuk meningkatkan pelayanan pasien stroke sekaligus memperkuat kapasitas rujukan di Bali Utara. Fasilitas ini menjadi bagian dari revitalisasi gedung Cempaka dan Kamboja dengan estimasi anggaran sekitar Rp200 miliar.
Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng, Ketut Suteja, mengatakan pembangunan gedung baru diperlukan untuk menggantikan bangunan lama sekaligus memenuhi kebutuhan ruang pelayanan yang terus meningkat.
Sebagai rumah sakit tipe B rujukan di Bali Utara, RSUD Buleleng menghadapi keterbatasan ruang perawatan intensif atau Intensive Care Unit (ICU). Antrean pasien yang membutuhkan perawatan intensif bahkan disebut pernah mencapai 18 orang.
“Gedung Cempaka dan Kamboja akan dibangun ulang. Kami juga menyiapkan Stroke Center karena ruang perawatan stroke yang ada saat ini belum didukung kapasitas dan fasilitas yang memadai,” ujar Suteja saat dikonfirmasi, Rabu (21/10).
Melalui pengembangan fasilitas tersebut, rumah sakit berharap dapat meningkatkan kemampuan penanganan pasien stroke dan mengurangi rujukan ke rumah sakit tipe A di Denpasar. Namun, pasien dengan kondisi kompleks yang berada di luar kompetensi rumah sakit tipe B tetap akan dirujuk.
Selain Stroke Center, pembangunan juga diarahkan untuk memperkuat layanan ruang operasi atau Operating Theatre (OK), ICU, serta pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK).
Dalam rencana tersebut, gedung Cempaka akan dialihfungsikan menjadi gedung PONEK, sedangkan gedung Kamboja dibangun kembali menjadi gedung empat lantai. Kedua gedung yang saat ini digunakan untuk rawat inap itu akan dibongkar dan dibangun ulang dengan estimasi pengerjaan sekitar 12 bulan.
“Pembangunan diperkirakan mulai awal 2027, menyesuaikan proses persiapan dan mekanisme yang berlaku. Tahap persiapan mencakup manajemen konstruksi (MK), penyusunan master plan, serta proses lelang fisik,” ujarnya.
Suteja memastikan pelayanan rawat inap tetap berjalan selama proyek berlangsung. Pasien yang terdampak pembongkaran akan dipindahkan ke ruangan lain, dengan penyesuaian kapasitas tempat tidur di sejumlah ruang perawatan. “Relokasi sudah kami perhitungkan. Beberapa ruangan akan disesuaikan kapasitasnya agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan selama pembangunan,” katanya.
Saat ini, gedung Cempaka telah dikosongkan dan pasiennya dipindahkan ke gedung Jempiring. Sementara itu, penataan ruang lain dilakukan untuk menampung pasien dari kedua gedung, yang sebelumnya memiliki total sekitar 40–50 tempat tidur.
Rumah sakit juga akan berkoordinasi dengan pelaksana proyek untuk mengantisipasi debu, kebisingan, dan risiko keselamatan agar pembangunan tidak mengganggu pelayanan maupun aktivitas pasien. “Yang jelas kalau pelayanan sudah tidak ada masalah. Relokasi bed juga sudah kita laksanakan karena gedung yang lama akan dibongkar,” imbuhnya.
Dalam jangka panjang, pengembangan sarana dan prasarana ini diharapkan memperkuat peran RSUD Buleleng sebagai rumah sakit rujukan di Bali Utara. Peningkatan fasilitas tersebut juga menjadi bagian dari upaya menuju rumah sakit tipe A, yang perlu didukung kesiapan sumber daya manusia dan kompetensi pelayanan. “Arahnya nanti kesana. Bagaimaba kedepan buleleng bisa menjadi rumah sakit tipe A,” tutup Suteja. (Nyoman Yudha/balipost)










